Awal mulanya, saya direkomendasikan buku ini oleh senior saya yang angkatan 2004. Katanya, sebagai mahasiswi Antropologi, saya wajib baca buku ini karena dalam buku ini mengandung unsur2 yang ‘antrop banget’. Nilai budaya, tradisi, estetika masyarakat, sampai religi (namun tidak religius).
09 November 2007
Larutan Senja
:: kisstheangel.multiply.com
Gaya bahasanya.. wow! Imajiner, tepat pada sasaran, dan punya makna. Tadinya, saya pikir, kumpulan cerpen ini akan sama dengan kumpulan cerpen penulis2 lain. Tapi ternyata isinya jauh dari yang saya kira..
Awal mulanya, saya direkomendasikan buku ini oleh senior saya yang angkatan 2004. Katanya, sebagai mahasiswi Antropologi, saya wajib baca buku ini karena dalam buku ini mengandung unsur2 yang ‘antrop banget’. Nilai budaya, tradisi, estetika masyarakat, sampai religi (namun tidak religius).
Awal mulanya, saya direkomendasikan buku ini oleh senior saya yang angkatan 2004. Katanya, sebagai mahasiswi Antropologi, saya wajib baca buku ini karena dalam buku ini mengandung unsur2 yang ‘antrop banget’. Nilai budaya, tradisi, estetika masyarakat, sampai religi (namun tidak religius).
05 September 2007
Sepotong Tangan
(dimuat di Republika, 5 Agustus 2007)
Pagi saat istrinya tak lagi bangun dari tidur, ia menunggu cukup lama di samping perempuan tua itu. Itu adalah pagi yang tak sama dengan 37 tahun pagi hari sebelumnya. Biasanya, istrinya selalu bangun lebih dahulu. Menyiapkan sarapan, sedikit berdandan, lalu jika perempuan tersebut sedang ingin memanjakan suaminya, ia akan membawa sarapan ke atas kasur. Membiarkan aroma harum kopi susu menguar ke hidung lelaki terkasihnya dan membuatnya terjaga. Sambil berterimakasih, laki-laki itu selalu mencium punggung tangan istrinya. Ia akan terus memegangi tangan istrinya sambil memakan sedikit-sedikit telur orak-arik sarapannya serta menyeruput kopi susunya sampai tertinggal ampas di dasar cangkir.
02 September 2007
Ubud Writer and Reader Festival 2007 (26 Sept-1 Okt 2007)
This year the big theme of Ubud Writer and Reader Festival is Sekala Niskala or The Seen and The Unseen in English or Ada dan Tiada in bahasa Indonesia.
Gin Gin from Singaraja
Her name is Ni Made Ginarni, “but just call me Gin Gin, OK . . .” she asks. I smile while saying: “your name sounds unique and cute”. Then, she explains that at home, she is called Made, but sometimes Kadek, meaning the second child, “but at school, I was called Adek Gin,” she adds. Then, she laughs, showing her teeth. A pleasant laugh.
04 Agustus 2007
Akhirnya... ketemu Soe Tjen Juga!
Bulan Juli, Soe Tjen Marching dan suaminya, Angus, datang ke Indonesia. Dia sempatkan pula mampir ke Jakarta sebelum kembali ke London. Jadilah kami janjian bertemu di TIM, sekaligus mereka ingin bertemu Hary Aveling yang kebetulan sedang jadi pembicara di acaranya bang Tarji. Yang mengagetkan, ternyata Hary Aveling adalah pendeta mereka waktu menikah!
Soe Tjen, Aku dan Eka
04 Juni 2007
Soe Tjen Marching and Potion of Twilight
English version:
Soe Tjen Marching is an academic, creative writer and a composer. Her book The Discrepancy between the Public and the Private Selves of Indonesian Women was published by the Edwin Mellen Press. As a creative writer, her works have been published in Australia, Indonesia and the United Kingdom; and she has won several creative writing competitions in Australia. As a composer, she won a national competition for Indonesian composers in 1998 held by the Association for Indonesian Composers (AKI) and the German Embassy. One of her compositions was released in the CD Asia Piano Avantgarde – Indonesia played by pianist Steffen Schleiermacher. She now teaches at SOAS – University of London, as well as an honorary Research Fellow at Monash University in Australia.
17 April 2007
Feminisme dalam Fiksi
Perhatikan kalimat ini: "Dengan cepat kutikam pisau itu ke perut lelaki itu. Ia sangat kaget sekaligus menahan sakit. Sprei yang berwarna putih kini menjelma merah darah. Aku mencium lelaki itu dengan lembut." (cerpen "Permainan Tempat Tidur", Maya Wulan). Dalam cerpen tersebut Maya Wulan menggambarkan adegan ranjang nyaris secara detil sebanyak tiga halaman.
Perhatikan pula kalimat ini: "Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot mani Ayah." (cerpen "Menyusu Ayah", Djenar Maesa Ayu). Itu hanyalah nukilan dari sekian banyak karya Djenar yang berbau-bau seks. Ada persamaan dalam kedua karya tersebut, di akhir cerita tokoh utama sama-sama membunuh laki-lakinya karena telah menyakiti tokoh secara seksual.
Perempuan yang (Tidak) Perkasa
"Kamu seharusnya lahir jadi anak laki-laki; tentulah kamu akan jadi laki-laki yang tetap berani hati," demikianlah kami dengar setiap kali sampai jemu telinga mendengarnya.
(surat Kartini kepada Nyonya Ovink-Soer: Jepara, Agustus 1900)
Panggil dia 'Kartini' saja, seperti yang diminta Kartini sendiri dalam surat-suranya kepada sahabat-sahabatnya. Kalimat itu pula yang kemudian diadopsi Pramoedya Ananta Toer untuk novelnya, Panggil Aku Kartini Sajda. Tanpa embel-embel 'Raden Ajeng', sebuah tato yang sudah sejak lahir menempel pada awal nama Kartini, menunjukkan kedudukannya yang bukan sekedar rakyat jelata. Dari kalimat itu saja kita sudah bisa melihat bahwa sebenarnya ada perjuangan yang sebenarnya lebih besar dari pada sekedar memperjuangkan kesetaraan gender. Sebutan 'raden ajeng' sama dengan menunjukkan kasta yang tinggi dalam masyarakat Jawa. Kartini seakan-akan ingin menghapus 'raden ajeng' dari nama dan hidupnya.
Langganan:
Komentar (Atom)