Tampilkan postingan dengan label Literature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literature. Tampilkan semua postingan

08 April 2010

Keeping it Short

There are more than a million books published around the world every year, with short story collections accounting for less than 1 percent of them. Still, the last two years have seen the publication of some of the most intriguing anthologies by authors of all backgrounds, making 2008 and 2009 very successful years for short fiction. In the long run, it remains to be seen if the short story will gain the publishing upper hand. Maggie Tiojakin reports.

Short stories are hard to write, that’s true; but they’re even harder to sell, and that’s a fact.

Ratih Kumala is known for her quirky and sometimes disturbing stories that appear regularly in leading national dailies, including Kompas and Suara Merdeka. She’s the author of three novels – Tabula Rasa (2004), Genesis (2005) and Kronik Betawi (2009) – as well as a collection of short stories, Larutan Senja (2006), distinguishing her as one of the most promising young writers today.

The 14 stories included in Larutan Senja (Potion of Twilight) feature some of Ratih’s best writing to date, recounting anecdotes of a world driven by faith (or the lack of it), mysticism, fantasy and (some) horror. Yet the anthology is almost impossible to find in local bookstores and available for purchase only through the Internet. This is despite the fact that Larutan Senja was listed as one of the few notable books in the year of its publication.

28 Januari 2010

Abdullah Harahap, Master of Horror Fiction

Ketika mendengar nama Abdullah Harahap (AH), yang saya ingat adalah kover buku beliau yang provokatif. Biasanya ada gambar makhluk berwajah seram, dan seorang pemuda tampan, serta gadis cantik nan molek. Saya menemukan buku-buku AH ketika kecil, dijual eceran di antara koran-koran dan majalah, serta buku TTS. Saya besar di keluarga Islam, maka ketika ibu saya tahu saya melihat buku-buku bergambar seronok, saya dilarang membacanya. Pada suatu saat saya berkesempatan membacanya, saya tidak menyelesaikan buku AH. Sebabnya? Saya ini penakut!

Ada yang aneh pada buku-buku AH. Bagi saya (dan mungkin untuk kebanyakan orang), buku-buku AH tergolong "guilty pleasure". Mau dibaca gengsi, enggak dibaca penasaran. Dari sekian banyak buku AH yang saya mulai baca, kesemuanya tidak ada yang saya selesaikan. Setiap kali setannya mau muncul, saya menutup buku itu. Meskipun saya bercita-cita menyelesaikannya, toh saya tidak pernah melanjutkan membaca.

20 November 2009

Doel Hamid Asal Betawi


Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun '90-an


Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si Doel dalam novel anak berjudul Si Doel Anak Betawi. Ketika nama “Betawi” diumumkan menjadi “Djakarta”, judul buku ini diubah menjadi Si Doel, lalu diubah lagi menjadi Si Doel Anak Djakarta. Mengutip pendahuluan Aman Datuk Madjoindo di buku cetakan ke lima, “Karena nama ‘Betawi’ itu sudah hilang sama sekali dari perasaan, hanya nama ‘Djakarta’ djua jang terlintas dihati, maka saja tambahkan kembali nama itu, djadi Si Doel anak Djakarta.”

Saya mengenal Si Doel pertama kali dari film karya Sjuman Djaya, Si Doel Anak Modern yang dibintangi oleh Benyamin, Christine Hakim dan Achmad Albar. Si Doel Anak Modern adalah sekuel dari Si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya. Tapi entah mengapa, yang terus teringat jelas di benak saya adalah Si Doel Anak Modern. Kisahnya tentang Si Doel yang sudah dewasa, dan lebih fokus pada kehidupan cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan.

Selain film karya Sjuman Djaya, saya mengenal Si Doel lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan pada tahun ’90-an yang ketika itu lumayan populer. Rano Karno kembali membintangi menjadi Si Doel yang kini sudah lulus kuliah dan susah cari kerja. Benyamin tetap jadi babe Si Doel, yang kerjanya menjadi supir oplet. Beberapa karakter tambahan di versi sinetronnya membuat serial Si Doel jadi lebih hidup; Mandra, Mas Karyo (diperankan Basuki, alm.), Zaenab (diperankan Maudy Koesnadi), Sarah (diperankan Cornelia Agatha), dan beberapa tokoh lain.

11 Desember 2008

Lahir, Jodoh, Rejeki dan Matinya Sebuah Tulisan

[caption id="attachment_323" align="alignleft" width="400" caption="2nd hand book di belakang Tokyo University"]2nd hand book di belakang Tokyo University[/caption]

Matabaca, edisi Desember 2008

Lahir

Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.

Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.

16 Agustus 2008

Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif


Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun '60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul "Gerhana Kembar" yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah "Gerhana Kembar" ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.

24 Juni 2008

Young writers test the limits of teenlit

Daniel Rose, Contributor, Jakarta | The Jakarta Post, 05/11/2008



[caption id="attachment_173" align="alignleft" width="399" caption="DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)"]DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)[/caption]

A man who works in marketing and rarely reads fiction said that whenever he heard the word "writer", the first thing that crossed his mind was eccentricity.

His definition of "eccentricity" is introverted and quiet on one hand; extroverted and rebellious on the other. In short, he thinks writers are a strange breed. Where did he get this idea? "The Hours and Finding Forrester," he answered.

Three young writers sat in the waiting room of Gramedia Pustaka Utama (GPU) publishing company one afternoon - two girls and a guy. The girls, Ratih Kumala and Dyan Nuranindya, were wearing T-shirts, and the guy, Fadil Timorindo, wore a washed-out jacket and skinny jeans. There was nothing eccentric about their appearance.

03 Juni 2008

"Foto Ibu"

foto_ibu.jpg
Ilustrasi oleh Wiediantoro

Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.

25 Mei 2008

Orang Gila dalam Fiksi

sawali.jpg

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri ke HB Jassin, acara sastra Indonesia-Malaysia. Sebetulnya bukan tema yang menarik saya untuk datang, tetapi karena saya rada kangen beberapa lama tidak ke TIM. Selain itu, saya juga lebih tertarik untuk melihat presentasi orang-orang sastra senior (ada pak Ahmadun Yosi Herfanda, kang Kurnia Effendi dan pak Maman S Mahayana), apa pun temanya. Satu lagi yang menarik saya; kebetulan sekali pak Sawali Tuhusetya ternyata juga di acara yang sama, saya dapat info ini dari SMS pak Maman S Mahayana.

Beberapa bulan sebelumnya saya sempat chatting dengannya. Saya termasuk orang yang sering penasaran, bagaimana wajah-wajah aseli orang-orang yang saya temui di dunia maya. Akhirnya, ketemu juga dengan pak Sawali. Sayang kami tidak sempat ngobrol panjang. Maklum, dia lagi meluncurkan buku kumcernya berjudul Perempuan Bergaun Putih (penerbit bukupop, 2008). Jadi rada sibuk melayani orang yang minta tanda tangan. Sesampai di rumah, saya tidak langsung membaca kumcer tersebut. Seperti buku-buku lainnya, saya letakkan di meja kecil sebelah tempat tidur sebagai penanda prioritas buku yang niat saya baca. Saya memang hobi menyicil bacaan, apalagi kalau itu kumpulan cerpen.

05 Mei 2008

Film-Film tentang Penulis

shakespearein-love.jpg
Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film Shakespeare in Love
Saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa di balik sebuah cerita fiksi, ada cerita lain, yaitu penulisnya. Stephen King dalam bukunya berkata, bahwa (kalau tidak keliru mengutip), dibutuhkan tiga hal jika seseorang ingin jadi penulis: 1) pena, 2) kertas, 3) broken home!

Hah?! Broken home? Ya, broken home!

13 April 2008

5 Puisi yang Tak Tergantikan


A poem a day will keep the doctor away.
-rk-

Inilah kenyataan umum yang saya tahu jika saya kebetulan bertemu dengan orang-orang yang jatuh cinta pada kata-kata: mereka membaca puisi. Kisah cinta saya pada sastra juga diawali perkenalan dengan puisi. Ketika itu, saya belum punya napas yang cukup panjang untuk menyelesaikan sebuah cerpen (apalagi novel). Saya menulis puisi-puisi pendek di buku harian saya tentang tema-tema sederhana, misalnya tentang dompet merah yang hilang. Ketika itu saya masih SMP. Dulu, saya pikir, menulis puisi itu gampang. Ternyata, lama kelamaan bagi saya menulis puisi lebih sulit dibanding menulis prosa. Maka itu, sekarang saya tahu diri; tidak menulis puisi. Sampai sekarang saya masih heran dengan mereka yang bilang bahwa menulis puisi itu gampang, bagi saya menulis puisi itu pekerjaan berpikir yang tak selesai-selesai.

Ada puisi-puisi yang bagi saya tak tergantikan. Puisi-puisi yang di awal pembelajaran penulisan saya sering menemani saya, terus menerus, dan membuat saya jatuh cinta pada sastra. Meniru acara tv E! Count Down, saya ingin menghitungnya dari yang nomor lima dan terus membuncit hingga nomor satu:

08 Maret 2008

Epileptik


"Ya, dia anakku. Dia sakit."


Bagaimanakah sebuah penyakit bisa mempengaruhi hidup sebuah keluarga? Bagi keluarga Beauchard penyakit yang diderita anak tertua mereka lama kelamaan berlaku selayaknya kompas; menunjukkan ke arah mana keluarga ini akan pergi. Jean-Christope menderita epilepsi sejak kecil. Ia bisa terserang hingga tiga kali sehari, tanpa mengenal waktu maupun tempat. Jika serangannya terjadi, ia tiba-tiba menjadi lumpuh, pandangannya tak tentu, tak punya kontrol terhadap dirinya sendiri, air liurnya pun tumpah. Lalu, jika ini terjadi di tempat-tempat umum (dan kebetulan sering), maka orang-orang akan mengerumuninya. Dengan tatapan heran, jijik, takut, sekaligus bersemangat, orang-orang bergumam-gumam, mengata-ngatainya gila, perlu dibawa ke RSJ, kesurupan, atau paling bagus, ia dituduh idiot.

19 Februari 2008

"Ah Kauw"



Sudah hampir dua puluh lima tahun Ah Kauw menjadi penggali kubur. Jika kau mengira ia bekerja sebagai penggali kubur bagi mereka yang mati, maka kau salah.

Tadinya ia menggali kubur untuk orang yang sudah mati, seperti penggali kubur kebanyakan. Sampai suatu hari, Koh Hien, orang yang dikenal Ah Kauw sebagai pemilik toko yang menjual barang-barang untuk keperluan kematian orang-orang Tionghoa, menawarinya pekerjaan yang lebih menghasilkan uang di Jakarta.

Baca selengkapnya di sini: Suara Merdeka, 17 Februari 2008 (Home-Entertainment-Cerpen)

18 Februari 2008

"The Man Across The Street"


Would you believe I have been in this nursing home for 20 years? I wonder why I have outlived all my friends. It's not like I ever prayed for a drawn-out "life-sucking" existence.

Being old is no fun. I have had three strokes and three heart attacks. My doctor reckoned the third heart attack would take me out. He was wrong.

My kids and grandchildren say they are happy I'm still here.

So why did they put me in a home? I hate it here; gathered together with the other old folk.

I want to be cremated like my friends. I want my ashes to be poured into the sea, as were my son's and my husband's more than 10 years ago.

Baca lanjutannya / Read more at The Jakarta Post, 17 February 2008

17 Februari 2008

Happy B'day Apsas!

Di ultah komunitas milis sastra ke-3, apresiasi-sastra@ yahoogroups.com, teman-teman yang biasanya ngobrol di dunia maya kali ini kopi darat. Di Japan Foundation, teman-teman Apsas bertemu dan bersastra; mulai dari launching buku, pertunjukan teater, diskusi, monolog, sampai baca puisi yang dulu pernah diposting ke milis oleh anggota-anggotanya. Ada acara potong tumpeng segala lho!

[gallery]

13 Februari 2008

Perubahan Identitas Buku Terjemahan


Jika perbedaan banyak bahasa ibarat hulu dan hilir yang terpisah oleh sebuah sungai, maka penerjemah adalah jembatan di atas sungai itu; inilah yang saya pelajari ketika saya kuliah dulu. Penerjemahan merupakan mata kuliah favorit saya, bahkan saya memutuskan untuk mengambil penerjemahan untuk skripsi saya. Bagi saya menerjemahkan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Saya berpikir berpuluh-puluh kali jika harus menerjemahkan satu karya, apalagi kalau itu bukan karya saya sendiri.

Akhir-akhir ini, ada hal yang menyentil ketika saya berkunjung ke toko buku. Buku pertama yang saya lihat adalah The Inheritance of Loss karya Kiran Desai diterjemahkan menjadi Senja di Himalaya (penerbit Hikmah). Awalnya, saya merasa 'lucu' dengan judul terjemahan ini. Tetapi kemudian saya menemukan beberapa buku terjemahan lain dengan judul berubah total. Di antaranya yang saya catat adalah Kafka on the Shore karya Haruki Murakami menjadi Labirin Asmara Ibu dan Anak (penerbit Alvabet), The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom menjadi Meniti Bianglala (GPU), dan Great Expectations karya Charles Dickens menjadi Teman Istimewa (penerbit Narasi).

07 Januari 2008

The Grass is Singing: Skenario Terburuk Perempuan

Nobel Kesusatraan

“Sjambok itu tergantung di depan pintu rumahnya, seperti slogan yang terpampang di dinding: Jangan ragu untuk membunuh jika memang perlu.” Demikian tulis Doris Lessing dalam novel debutnya.


Sjambok (cambuk khas Afrika) merupakan perlambang kekuasaan kulit putih yang mendominasi di Afrika Selatan. Sjambok biasa digantungkan di dinding atau pintu depan rumah orang kulit putih untuk menakut-nakuti para pekerjanya, orang kulit hitam. Seperti inilah gambaran zaman perbudakan sebelum tahun 50-an, yang menjadi latar novel The Grass is Singing.

Bagi penulis generasi sekarang, terutama di Indonesia (tak terkecuali saya), baru mendengar nama Doris Lessing ketika ia disebut sebagai pemenang Nobel Kesusastraan 2007 pada Oktober lalu. Namanya tak muncul secuil pun dalam taruhan siapa pemenang Nobel Kesusastraan 2007 yang marak di internet. Bahkan bisa dibilang, ia mungkin telah dilupakan. Pada tanggal 10 Desember 2007, perempuan berusia 87 tahun ini menerima hadiah sebesar 1,5 juta dollar AS di Kantor Pusat Akademi Nobel, Stockholm. Saya memutuskan untuk "berkenalan" dengannya melalui The Grass is Singing.

01 Januari 2008

"Tulah"


foto oleh place light -on a project-, some rights reserved

Darah Domba di Pintu Budak.
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku, mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanyakan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.

Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba, sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun. Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugembar-gemborkan namun tak hendak didengarkan.

05 September 2007

Sepotong Tangan


(dimuat di Republika, 5 Agustus 2007)
Pagi saat istrinya tak lagi bangun dari tidur, ia menunggu cukup lama di samping perempuan tua itu. Itu adalah pagi yang tak sama dengan 37 tahun pagi hari sebelumnya. Biasanya, istrinya selalu bangun lebih dahulu. Menyiapkan sarapan, sedikit berdandan, lalu jika perempuan tersebut sedang ingin memanjakan suaminya, ia akan membawa sarapan ke atas kasur. Membiarkan aroma harum kopi susu menguar ke hidung lelaki terkasihnya dan membuatnya terjaga. Sambil berterimakasih, laki-laki itu selalu mencium punggung tangan istrinya. Ia akan terus memegangi tangan istrinya sambil memakan sedikit-sedikit telur orak-arik sarapannya serta menyeruput kopi susunya sampai tertinggal ampas di dasar cangkir.

02 September 2007