Tampilkan postingan dengan label ratih kumala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ratih kumala. Tampilkan semua postingan

23 Mei 2009

Kronik Betawi, sebuah novel

[caption id="attachment_399" align="aligncenter" width="300" caption="Kronik Betawi"]Kronik Betawi[/caption]
"Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku."

Kronik Betawi terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima POD sebagai contoh fisik buku yang akan terbit dari Mbak Mirna, editor saya di GPU.

Bagi saya, novel ini menguak memori masa kecil. Saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Pondok Gede. Saya tinggal di lingkungan yang kental dengan budaya Betawi, di mana Bokir, Mandra (yang waktu itu masih miskin) sehari-hari bertemu dengan saya. Saya juga kerap menonton cucu-cucu Pak Haji Bokir berlatih di sanggar mereka saat malam minggu tiba.

Ketika novel ini terbit sebagai cerber di Republika pada tanggal 8 Agustus 2008, tengah malam hari tanggal 9 Agustus 2009, papah saya dipanggil Yang Kuasa. Ia belum sempat melihat karya saya yang teranyar. Untuk itulah novel ini saya persembahkan untuk Papah.

12 Januari 2009

My Jakarta (Interview@JakartaGlobe)

[caption id="attachment_349" align="alignleft" width="500" caption="Photo by Dalih Sembiring"]Photo by Dalih Sembiring[/caption]

Ratih Kumala is a Jakartan, first by birth and then by marriage. Born in the city 28 years ago, the writer-cum-editor moved to Palembang, South Sumatra Province, when she was in the fifth grade. She lived there for three years before her family took her to Solo, Central Java Province, where she eventually married writer Eka Kurniawan in 2006. Just one week after the wedding, Ratih followed her husband to the Big Durian.

What was it like to return to your birthplace?

I was shocked to see how much Jakarta had changed, especially the traffic. Let’s just say I’m glad my job doesn’t start at 9 a.m.

27 September 2008

"Rumah Duka": sebuah pembacaan (kurang) seksama

by : Mirza Rahadian



Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.

29 Juli 2008

08 Juli 2008

"Rumah Duka"

Kompas | Minggu, 6 Juli 2008


Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.

Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.

”Tolong…, hormati keluarga kami yang sedang berduka,” desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.

24 Juni 2008

Young writers test the limits of teenlit

Daniel Rose, Contributor, Jakarta | The Jakarta Post, 05/11/2008



[caption id="attachment_173" align="alignleft" width="399" caption="DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)"]DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)[/caption]

A man who works in marketing and rarely reads fiction said that whenever he heard the word "writer", the first thing that crossed his mind was eccentricity.

His definition of "eccentricity" is introverted and quiet on one hand; extroverted and rebellious on the other. In short, he thinks writers are a strange breed. Where did he get this idea? "The Hours and Finding Forrester," he answered.

Three young writers sat in the waiting room of Gramedia Pustaka Utama (GPU) publishing company one afternoon - two girls and a guy. The girls, Ratih Kumala and Dyan Nuranindya, were wearing T-shirts, and the guy, Fadil Timorindo, wore a washed-out jacket and skinny jeans. There was nothing eccentric about their appearance.

03 Juni 2008

"Foto Ibu"

foto_ibu.jpg
Ilustrasi oleh Wiediantoro

Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.

22 Juni 2004

Generasi Dunia Maya Tercermin di Novel

Kompas, 21 Juni 2004


Jakarta, Kompas - Karya-karya novel para pengarang muda sekarang cenderung menyajikan loncatan-loncatan ruang dan waktu yang liar. Novel Tabula Rasa karya pengarang muda Ratih Kumala misalnya, tak segan-segan menyuguhkan perasaan asing kepada pembaca dalam kerangka kosmolitisme, seperti yang lumrah ditemukan dalam novel Ayu Utami dan Dewi Lestari.