17 April 2007
Feminisme dalam Fiksi
Perhatikan kalimat ini: "Dengan cepat kutikam pisau itu ke perut lelaki itu. Ia sangat kaget sekaligus menahan sakit. Sprei yang berwarna putih kini menjelma merah darah. Aku mencium lelaki itu dengan lembut." (cerpen "Permainan Tempat Tidur", Maya Wulan). Dalam cerpen tersebut Maya Wulan menggambarkan adegan ranjang nyaris secara detil sebanyak tiga halaman.
Perhatikan pula kalimat ini: "Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot mani Ayah." (cerpen "Menyusu Ayah", Djenar Maesa Ayu). Itu hanyalah nukilan dari sekian banyak karya Djenar yang berbau-bau seks. Ada persamaan dalam kedua karya tersebut, di akhir cerita tokoh utama sama-sama membunuh laki-lakinya karena telah menyakiti tokoh secara seksual.
Perempuan yang (Tidak) Perkasa
"Kamu seharusnya lahir jadi anak laki-laki; tentulah kamu akan jadi laki-laki yang tetap berani hati," demikianlah kami dengar setiap kali sampai jemu telinga mendengarnya.
(surat Kartini kepada Nyonya Ovink-Soer: Jepara, Agustus 1900)
Panggil dia 'Kartini' saja, seperti yang diminta Kartini sendiri dalam surat-suranya kepada sahabat-sahabatnya. Kalimat itu pula yang kemudian diadopsi Pramoedya Ananta Toer untuk novelnya, Panggil Aku Kartini Sajda. Tanpa embel-embel 'Raden Ajeng', sebuah tato yang sudah sejak lahir menempel pada awal nama Kartini, menunjukkan kedudukannya yang bukan sekedar rakyat jelata. Dari kalimat itu saja kita sudah bisa melihat bahwa sebenarnya ada perjuangan yang sebenarnya lebih besar dari pada sekedar memperjuangkan kesetaraan gender. Sebutan 'raden ajeng' sama dengan menunjukkan kasta yang tinggi dalam masyarakat Jawa. Kartini seakan-akan ingin menghapus 'raden ajeng' dari nama dan hidupnya.
Langganan:
Komentar (Atom)