11 Desember 2008

Lahir, Jodoh, Rejeki dan Matinya Sebuah Tulisan

[caption id="attachment_323" align="alignleft" width="400" caption="2nd hand book di belakang Tokyo University"]2nd hand book di belakang Tokyo University[/caption]

Matabaca, edisi Desember 2008

Lahir

Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.

Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.

21 November 2008

Naik Kelas


Tanggal 20 November ini saya merayakan satu bulan saya bekerja di sebuah televisi swasta.  Tiba-tiba saya kagum pada diri saya sendiri... "kok bisa ya, bertahan?" Saya merasa keluar dari cangkang kenyamanan yang selama ini saya erami.


Pertama, saya membenci rutinitas.
Kedua, saya tidak terlalu cakap bergaul dengan orang lain.
Ketiga, saya merasa sulit bekerja dengan orang lain -terutama untuk hal-hal yang kreatif.


Jadi..., hebat! Saya bisa bertahan. Untuk kali ini, saya memberi salut untuk diri sendiri (suatu hal yang jarang saya lakukan, ngomong-ngomong hehehehe).


Sudah terlalu lama saya bekerja sendiri. Dulu sempat sih, kerja kantoran. Waktu itu saya masih meraba-raba apa yang saya inginkan. Jadi, saya cenderung mencoba segala hal. Ketika saya memutuskan untuk fokus menulis, saya menjadi lebih intim dengan diri saya sendiri ketimbang dengan orang lain (istilah kerennya "autis" ya?). Hal kreatif menurut saya patutnya dilakukan sendiri saja, sebab jika dilakukan dengan orang lain, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya capai.


24 Oktober 2008

CHE: Sebuah Biografi Grafis


"Che Guevara adalah manusia paling lengkap pada masanya."
(Jean Paul Sartre)

Sejak kematiannya pada tahu 1967, Ernesto "Che" Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana; poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kasor bergambar Che tidak mengetahui siapa sebenarnya Che Guevara.

Biografi grafis (baca: komik) yang digambar dan ditulis berdasarkan riset oleh Spain Rodriguez ini memberi nafas baru pada sejarah dan perjuangan Che. Buku ini menyoroti kehidupan Che serta pengalaman yang membentuk karakternya. Dari perjalanan naik sepeda motor ke Amerika Latin, saat menduduki posisi penting sebagai pimpinan di gerakan revolusioner Fidel Castro, perjalan di Afrika, keterlibatan dengan pemberontakan di Bolivia yang berujung pada kematiannya, hingga warisan luar biasa yang ia tinggalkan untuk dunia.

20 Oktober 2008

Pemulung Plastik

Di rumah, saya punya banyak sendok plastik yang saya dapat dari makan nasi kotak, pengaduk cappucino, makanan pesan-antar, dll. Memang, dibandingkan sendok logam, sendok plastik jelas berkualitas rendah. Setelah sekitar sepuluh kali pemakaian, sendok plastik biasanya patah. Setelah itu, baru saya anggap daya sendok plastik tak ada lagi. Saya membuangnya. Tapi, selama sendok plastik belum patah, saya akan memperlakukannya seperti sendok logam lain; mencuci dan menyimpan baik-baik setelah makan.


27 September 2008

"Rumah Duka": sebuah pembacaan (kurang) seksama

by : Mirza Rahadian



Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.

23 September 2008

Introduction to Larutan Senja: The Revenge on God



By Soe Tjen Marching


What’s wrong with sex?  Of course, there is nothing wrong with it.  For me, sex is just one of numerous human desires.  But why is it considered taboo by several parties in Indonesia? Recently the Indonesian government issued a draft bill called “Rancangan Undang-Undang anti pornografi dan pornoaksi” [The anti pornography and pornographic action bills] or RUUAPP, which is comprised of 11 chapters and 93 sections. 


It defines pornography as “substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika” [materials in the mass media which are created to deliver ideas which exploit sexuality, pornography and/or eroticism].  Pornographic action is “perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di muka umum” [action which exploits sexuality, pornography or eroticism in public]. 



Sexual activity seems to be worse than any other crime in the eyes of the Indonesian government, as its regulation has been dominating the agenda of legislation for years.  Why is this desire considered dangerous? A careful examination of the draft of RUUAPP and the fact that, if passed, it will lead to the arrest of some women with short skirts and the persecution of Inul, can only lead to the conclusion that what is considered problematical is women’s sexuality. 

15 September 2008

Update: The Power of "Surat Pembaca"



Nyambung artikel "The Power of Surat Pembaca", Surat Pembaca saya sudah dapat tanggapan di harian Kompas tanggal 10 September 2008 lalu. Ini nih:

Santunan Klaim Telah Diterima

Menanggapi surat Ibu Ratih Kumala di Kompas (28/8) ”Nasabah Bumiputera Disalahkan”, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan layanan yang diterima dari petugas di kantor Cabang Solo Gladag. Polis orangtua Ibu Ratih (Nomor: 2000341973 atas nama Ibu Badriah dengan tertanggung almarhum Harris Fadilla) dalam status lapse (tidak aktif membayar premi) saat tertanggung meninggal dunia sehingga sesuai dengan ketentuan klaim dibayarkan sebesar uang pertanggungan bebas premi.

Proses klaim sudah dibicarakan pada 12 Agustus 2008, tetapi ahli waris menolak dengan alasan bahwa ketidakaktifan polis karena premi tidak tertagih petugas Bumiputera. Berdasarkan syarat umum polis (Pasal 5 Ayat 3) tentang pembayaran premi disebutkan: ”Jika karena sesuatu hal penagihan premi tidak dilakukan tepat waktunya oleh Badan (dalam hal ini Bumiputera), tidak membebaskan kewajiban pemegang polis untuk membayar premi kepada Badan.”

Pihak kami telah menemui Ibu Badriah sebagai ahli waris agar kembali dan sepakat dengan penghitungan santunan klaim. Santunan tersebut telah diterima oleh Ibu Bardiah pada tanggal 28 Agustus 2008. Kepada pemegang polis/nasabah Bumiputera jika memiliki pertanyaan/keluhan terkait layanan Bumiputera di lapangan agar menghubungi Halo Bumiputera di telepon 0800- 188-1912, atau melalui e-mail: komunikasi@bumiputera.com.
Ana Mustamin 
Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan AJB Bumiputera 1912


Sejujurnya, pengennya sih saya balas lagi. Tapi..., hhhhmmmm... sekali lagi: karena ibu saya berusaha ngayem2i saya, ditambah pula dengan kalimat, "ini bulan puasa, harus saling memaafkan" (gubrak!), jadilah -seperti biasa- saya harus kembali mengalah.

08 September 2008

Saya VS Ramadhan

Ada yang berbeda dengan puasa kali ini. Seperti halnya berbeda dengan puasa tiga tahun lalu dan dua belas tahun lalu. Ya, saya mengalami empat situasi puasa yang berbeda selama hidup:

1. Ketika saya kecil, saat mulai belajar berpuasa. Saya tinggal di perkampungan khas Jakarta yang penuh sesak. Tak ada privasi di kampung saya itu. Segala gosip beredar cepat. Ketika itu juga, saya ikut TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang diadakan oleh tetangga saya, namanya Pak Kholis. Saat itu, sekolah saya juga membagikan sebuah buku yang berisi laporan kegiatan selama bulan puasa. Setiap murid SD ketika itu agaknya punya buku macam ini. Saya harus mengisi apakah hari ini saya puasa penuh atau puasa beduk. Apakah saya hari ini mengaji dan tarawih atau tidak. Lebih dari itu, saja juga harus mengisi laporan kultum yang diberikan ketika tarawih usai. Saya begitu menyukai Ramadhan dan Lebaran (ya, saya lebih akrab dengan sebutan 'lebaran' ketimbang 'idul fitri'). Mendekati Ramadhan usai, para orang tua dan guru ngaji senantiasa mengingatkan untuk mengencangkan ibadah karena siapa tahu kita bertemu malam lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Selain itu, kami juga bersiap-siap dengan baju baru yang hanya dibeli setahun sekali, tak lupa juga dompet! Karena para tetangga pasti akan membagikan uang ang-pao yang lumayan.

06 September 2008

Kronik Betawi, sebuah novel



Teman-teman,
mulai tanggal 8 Agustus novel saya Kronik Betawi resmi muncul di harian Republika sebagai cerita bersambung. Selamat membaca!

Update:
Selesai cerber pada Desember 2008. Dan novelnya akan terbit pada tanggal 4 Juni 2009.

29 Agustus 2008

The Power of "Surat Pembaca"

Prolog

Dari sekian banyak artikel di blog ini, inilah artikel yang saya anggap paling penting yang pernah saya tulis.

 

Antara saya, mamah saya dan Asuransi Bumiputera

Setelah papah saya meninggal dunia, dan saya mudik ke Solo untuk pemakamannya, kami menghadapi satu masalah lain yang membuat mamah saya jadi lebih ikhlas, legowo, sekaligus semeleh. Lain mamah, lain pula saya yang masih saja meledak-ledak, sehingga saya memutuskan untuk menulis surat pembaca berikut:

 "Agen Bumi Putera Tidak Menagih, Klien yang Disalahkan"




Ibu saya peserta asuransi jiwa Bumi Putera (cabang Solo) dengan nomor polis 2000341973. Sebelumnya, ibu saya mengikuti asuransi pendidikan untuk anak-anaknya, dan tidak pernah ada masalah. 

Asuransi jiwa yang ibu saya ikuti sejak tahun 2000, seharusnya memberikan perlindungan ketika orangtua saya (baik ibu/bapak) meninggal. Polis asuransi tersebut dibayarkan setiap enam bulan sekali, yaitu bulan Oktober dan April, sebesar Rp. 438.744. Selama mengikuti asuransi, ibu saya tidak pernah menunggak. Agen asuransi, Ibu Yohana, selalu datang ke rumah untuk menagih polis asuransi.  

Entah kenapa, pada bulan April 2008, Ibu Yohana tidak datang. Juga tak ada agen lain yang datang menggantikannya, seandainya ada pergantian agen. 

28 Agustus 2008

Telat Balikin Buku = Kriminal



Saya menemukan berita yang menarik perhatian saya:

"Heidi Dalibor (20 thn), warga Wisconsin, AS, cuek saja ketika suatu hari disurati dan ditelepon untuk membayar denda peminjaman buku dari perpustakaan. Tak dinyana, ancaman "kalau tidak mengindahakan akan dibawa ke pengadilan" benar-benar terjadi. Dua polisi mendatanginya dan membawa surat perintah hakim, lalu memborgolnya. Heidi dibawa ke kantor polisi, lalu difoto layaknya kriminal, tuduhannya: melecehkan perpustakaan." (Sumber: Jawa Pos Minggu, 24 Agustus 2008)

Wah!

Seandainya saja pemerintah kita memperhatikan perpustakaan seserius itu. Tentu dokumentasi naskah sangat terjamin. Tahukan Anda, bahwa buku serial komik Petruk bisa komplit ditemui di perpustakaan Belanda? Dan novel bergenre seram milik Abdullah Harahap ada di perpustakaan di Amerika (saya tahu ini dari Intan Paramadita) lebih dari seratus judul. Bisa ditebak, naskah-naskah mereka tidak diperhitungkan di negara kita sebagai "sastra" dengan tanda kutip. Jadi naskah-naskah macam itu terlupakan.

20 Agustus 2008

Ugoran Nikah!

Mudik ke Solo dalam rangka papah meninggal, ternyata bisa terhibur juga. Tadinya saya dan Eka akan kembali ke Jakarta dalam tiga atau empat hari, ternyata tanggal 16 Agustus kami dapat berita Ugoran Prasad menikah di Solo. Dan... yang lebih bikin saya sumringah adalah, tempat resepsi dan jam acara dimulai sama! (di Grha Niekmat Rasa, jam 10 siang). Weee... kok bisa ya?! Selamat menempuh hidup baru buat Ugo dan Nini, selamat bergabung di 'dunia nyata'! :)

16 Agustus 2008

Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif


Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun '60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul "Gerhana Kembar" yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah "Gerhana Kembar" ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.

09 Agustus 2008

Obituari



Papahku sekarat ketika Olimpiade di Beijing dibuka, tanggal 8-8-08. Saya, Eka, dan beberapa teman sedang berada di Oh La La-Sarinah, ketika melihat pembawa obor 'terbang' ditarik tali, mengelilingi stadium untuk menyulutkan api. Seperti itulah saya ingin: terbang saat itu juga menuju Solo.

05 Agustus 2008

Tahi Lalat Ipong



Ipong punya banyak tahi lalat: ini kesimpulan saya setelah melihat pameran lukisannya di Vivi Yip Art Room (Sabtu, 2 Agustus 2008). Di banyak lukisan, bagian leher ke atas, saya menemukan satu titik cat. Awalnya, saya pikir itu karena dia doyan mencorat-coret hasil lukisannya dengan cat yang kelihatannya sengaja dicairkan dan diacak -rada mirip abstrak gitu deh, tapi bukan- (kalo baca katalognya, katanya ini 'teknik dripping' ...gile, udah bisa nyontek teori seni nih tiba2 hahahahaha). Tapi setelah diamat-amati lagi, kelihatannya dia sengaja menjatuhkan satu titik tinta ke bagian tertentu, dan... eng-ing-eng... jadi deh tahi lalat! Saya membayangkan, ruang lukis dia pasti berantakan, cat di mana-mana. Mungkin juga, dia punya satu kaos khusus yang dia pakai berulang-ulang hanya untuk melukis, baju yang khusus dikorbankan kena cat acrylic. Ya, mirip-mirip ama tukang cat gitu deh... he he he.

29 Juli 2008

24 Juli 2008

JUNO



Dari sebulan yang lalu teman sama, Metta, wanti-wanti untuk menonton JUNO. Sebetulnya waktu film ini tayang di bioskop, saya sudah niat mau nonton, gara-garanya orang Hollywood muji-muji film ini. Termasuk waktu Ellen Page (pemeran Juno) tampil di acara Ellen Degenerest, keliatannya Ellen Page cool banget dan aktinya dipuji habis-habisan sama Ellen. Akhirnya, setelah melewati dua malam mengutak atik VCD Juno yang gak mau muter di laptop, saya berhasil juga menontonnya dengan meminjam laptop suami.

08 Juli 2008

"Rumah Duka"

Kompas | Minggu, 6 Juli 2008


Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.

Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.

”Tolong…, hormati keluarga kami yang sedang berduka,” desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.

30 Juni 2008

Street Hunting Komunitas fotografer.net

[gallery]

Hari ini, saya diajak Husni Munir street hunting foto bersama teman-teman fotografer.net. Sejak malam sebelumnya, Husni memang sudah nginep di tempat saya. Maklum, rumah dia rada nun jauh di sana, jadi daripada bangun kepagian buat ngumpul di Gambir, mending pilih bermalam di rumah saya. Dari kemarin-kemarin Husni sudah manas-manasi saya biar terkontaminasi kamera juga. Tapi sengaja, saya jauh-jauh kalo dia lagi provokasi. Gak apa-apa deh jadi objek dia latihan aja, ketimbang saya kena racun kamera: soalnya kalo pengen harganya lumayan mahal (hiks).

24 Juni 2008

Young writers test the limits of teenlit

Daniel Rose, Contributor, Jakarta | The Jakarta Post, 05/11/2008



[caption id="attachment_173" align="alignleft" width="399" caption="DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)"]DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)[/caption]

A man who works in marketing and rarely reads fiction said that whenever he heard the word "writer", the first thing that crossed his mind was eccentricity.

His definition of "eccentricity" is introverted and quiet on one hand; extroverted and rebellious on the other. In short, he thinks writers are a strange breed. Where did he get this idea? "The Hours and Finding Forrester," he answered.

Three young writers sat in the waiting room of Gramedia Pustaka Utama (GPU) publishing company one afternoon - two girls and a guy. The girls, Ratih Kumala and Dyan Nuranindya, were wearing T-shirts, and the guy, Fadil Timorindo, wore a washed-out jacket and skinny jeans. There was nothing eccentric about their appearance.

15 Juni 2008

Para Peburu Hantu -Lokal dan Internasional-



Sekitar empat atau lima tahun lalu, daripada pacaran, saya termasuk salah satu orang yang lebih memilih nonton acara Dunia Lain di Trans TV. Sambil takut-takut sekaligus penasaran, saya mengumpulkan keberanian untuk menonton Dunia Lain. Segmen "Uji Nyali" di acara ini adalah bagian kesukaan saya. Saya ternganga ketika seorang ibu yang sedang uji nyali di sebuah ruangan yang ada gong besar, tiba-tiba gong tersebut bergerak-gerak. Dan tentu saja, yang paling bikin adrenalin saya berderis hebat adalah ketika mereka syuting di Lawang Sewu, Semarang --tempat paling angker sedunia! Kamera menangakap sosok setan perempuan, dan spontan peserta uji nyali teriak-teriak minta keluar. Konon, gosip yang beredar, seminggu kemudian peserta uji nyali meninggal dunia --katanya diikuti hantunya. Hiiiiiiiyyyy....

04 Juni 2008

Dua Delapan!

bdaycake.jpg
Hari ini saya tambah tua. Semoga juga tambah dewasa....

03 Juni 2008

"Foto Ibu"

foto_ibu.jpg
Ilustrasi oleh Wiediantoro

Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.

28 Mei 2008

"Kado Hari Jadi", a film by Paul Agusta

 

Seperti biasa, saya selalu mengukai kerja-kerja indie dengan semangat muda, entah itu soal buku maupun film. Belum lama, teman saya, Paul Agusta, bercerita tengah girang sebab dia akan membuat film features pertamanya. Setelah beberapa saat menghilang dari peredaran, dia kembali dengan sebuah karya yang diomongkannya, film "Kado Hari Jadi"

25 Mei 2008

Orang Gila dalam Fiksi

sawali.jpg

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri ke HB Jassin, acara sastra Indonesia-Malaysia. Sebetulnya bukan tema yang menarik saya untuk datang, tetapi karena saya rada kangen beberapa lama tidak ke TIM. Selain itu, saya juga lebih tertarik untuk melihat presentasi orang-orang sastra senior (ada pak Ahmadun Yosi Herfanda, kang Kurnia Effendi dan pak Maman S Mahayana), apa pun temanya. Satu lagi yang menarik saya; kebetulan sekali pak Sawali Tuhusetya ternyata juga di acara yang sama, saya dapat info ini dari SMS pak Maman S Mahayana.

Beberapa bulan sebelumnya saya sempat chatting dengannya. Saya termasuk orang yang sering penasaran, bagaimana wajah-wajah aseli orang-orang yang saya temui di dunia maya. Akhirnya, ketemu juga dengan pak Sawali. Sayang kami tidak sempat ngobrol panjang. Maklum, dia lagi meluncurkan buku kumcernya berjudul Perempuan Bergaun Putih (penerbit bukupop, 2008). Jadi rada sibuk melayani orang yang minta tanda tangan. Sesampai di rumah, saya tidak langsung membaca kumcer tersebut. Seperti buku-buku lainnya, saya letakkan di meja kecil sebelah tempat tidur sebagai penanda prioritas buku yang niat saya baca. Saya memang hobi menyicil bacaan, apalagi kalau itu kumpulan cerpen.

23 Mei 2008

Beasiswa Penulisan & Penerjemahan Novel - Majelis Kata Indonesia 2008

Majelis Kata Indonesia merupakan lembaga filantropi yang berikhtiar menumbuhkan dan mewadahi bentuk-bentuk penciptaan sastra yang menggerakkan kritisisme sosial, semangat toleransi, dan kesadaran kebangsaan. Lembaga ini mendorong dan mendukung bentuk-bentuk penciptaan sastra yang memperluas cakrawala memahami kemanusiaan.

Majelis Kata Indonesia menyelenggarakan beasiswa penulisan dan penerjemahan novel 2008 dengan ketentuan-ketentuan ini:

Selengkapnya baca di sini.

19 Mei 2008

Tempat bermain dan "bekerja"

kidzania1.jpg
Untuk kedua kalinya, saya ikut menemani Yiyi (anaknya Mommy Nai) main ke Kidzania. Sejujurnya, sejak beberapa bulan lalu Yiyi cerita banyak soal Kidzania (dengan sangat bersemangat), saya sudah penasaran. Suatu hari, kesempatan itu datang, waktu Yiyi ultah, si Mommy mengajak saya untuk ikut serta ke Kidzania. Saya rada menyesal tidak bawa kamera waktu itu. Nah... kali kedua ini saya bawa! he he he....

Ada apa sebenarnya di Kidzania, yang bikin Yiyi dan anak-anak Jakarta sekarang "demam Kidzania"?
Ternyata, saya seperti masuk ke dunia baru, mengingatkan saya pada negeri antah-berantah di cerita Peter Pan. Hanya saja, dunia Kidzania mirip dengan dunia kita. Kalau di Dunia Fantasi (mirip-mirip Disney Land), penuh dengan wahana permainan-permainan, maka di Kidzania penuh dengan wahana pekerjaan. Ya, pekerjaan! Sayang, saya sudah uzur, jadi tidak bisa ikut main di wahana. Semua cuma buat anak-anak.

09 Mei 2008

The Wizard of OZ at Oprah Show

dr-oz-omentum.jpg
I am the kind of person who care about health. First, it's because I have diabetic history run in my family. Second, my brothers, father and cousins are fat. Perhaps not as fat as American, but they are fat for Indonesian. I felt comfy to be surrounded by fat people, but not anymore. Not since I realize that it's not healthy, and it can easily happen to me; becoming fat, live unhappy (especially because I don't have anything to wear), and die suffer. I don't want to be like that.

See the picture above? It's Dr.Oz, Oprah and they're -not very good friend- omentum. Yes, I just knew it's name; OMENTUM, after watching Oprah Show several weeks ago at Hallmark Channel. Omentum is a bunch of fat that stays in your belly. That's what you see in the mirror when you're naked, and makes your belly doesn't six pack in shape. It's your enemy, I tell you! You don't want to have too many omentum live in your belly.

07 Mei 2008

Sayembara Menulis Novel DKJ 2008


 

Sayembara Menulis Novel kembali digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta.
Info lengkap, sila klik di sini.

05 Mei 2008

Film-Film tentang Penulis

shakespearein-love.jpg
Joseph Fiennes, pemeran William Shakespeare dalam film Shakespeare in Love
Saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa di balik sebuah cerita fiksi, ada cerita lain, yaitu penulisnya. Stephen King dalam bukunya berkata, bahwa (kalau tidak keliru mengutip), dibutuhkan tiga hal jika seseorang ingin jadi penulis: 1) pena, 2) kertas, 3) broken home!

Hah?! Broken home? Ya, broken home!

02 Mei 2008

Bukit

Bukit diedit
sedikit-sedikit
lama-lama
menjadi bukit


(puisi kolektif oleh: Binhad Nurrohmat, Eka Kurniawan, Iswadi Pratama, Joko Pinurbo, Ratih Kumala. Lampung, 30 April 2008)

Catatan:
Sewaktu-waktu anda mungkin menemukan puisi serupa dengan versi berbeda yang ditulis ulang khusus oleh Binhad Nurrohmat, dan itu sah-sah saja.

22 April 2008

The Forbidden Kingdom

forbiddenkingdom.jpg

Hari ini, saya girang sekali (sampai-sampai memutuskan untuk menulis di blog). Pasalnya, (akhirnya) saya nonton juga The Forbidden Kingdom. Malam minggu lalu, bersama dua orang teman dekat, saya dan suami pindah bioskom tiga kali hanya karena ingin nonton ini. Semua bioskop yang kami datangi full! Kami akhirnya pulang membawa penasaran. Hari Minggu, teman kami (yang malam sebelumnya keliling bersama ke tiga bioskop), SMS dan manas-manasin betapa kerennya The Forbidden Kingdom. Jadilah.... Maksa, hari ini bangun tidur kuterus mandi, tak lupa menggosok gigi, tak membersihkan tempat tidur, tapi langsung ke bioskop Jakarta Teater, antre beli tiket nonton The Forbidden Kingdom. Dua orang aktor yang saya kagumi sejak dulu main di film ini; Jackie Chan dan Jet Li. Satu hal yang lebih membuat saya lebih semangat lagi adalah, tema besar film ini adalah (eng ing eng...) Sun Go Kong, si Raja Kera! Hore!!!

19 April 2008

Terapi Dapur Nigella Lawson

nigella.jpg


If you can organize your kitchen, you can organize your life
(Louis Parrish)


Ini dia perempuan yang sekitar satu tahun ini membuat saya takjub, Nigella Lawson. Sejujurnya, saya baru mengenalnya satu tahun terakhir gara-gara nonton acara dia Nigella's Feast, Nigella's Bites, Forever Summer with Nigella dan yang terakhir Nigella Express di kanal Discovery Travel and Living.

Tidak seperti pembawa acara masak-memasak di Indonesia yang lazim kita kenal di tv, sangat kaku, bertujuan memberi tutorial masak memasak untuk pemirsa, dan berusaha berramah-tamah (meskipun hanya satu arah). Sebaliknya, Nigella lebih personal. Konon, syutingnya pun dilakukan di rumah sendiri. Dan satu resep, disyut hingga empat kali untuk kesempurnaan hasil akhir! Lebih dari itu, kelihatan sekali Nigella berusaha menggunakan latar yang minimalis tetapi tetap berkesan hangat. Kok bisa ya? Padahal selama ini, penataan ruang yang minimalis berkesan sangat "dingin". Tapi tidak di acara Nigella. Kesan minimalis saya tangkap dari pilihan warna barang-barang yang ada di situ, bahkan warna pakaiannya pun terlihat jelas dipilih khusus. Kesan hangat yang "tersembunyi" itu, saya dapatkan dari sosok Nigellanya sediri (yang tak bosan-bosannya tersenyum dan bercerita tentang persona dirinya sendiri), juga dari masakan-masakan yang dibuatnya.

invitation, buat teman2 di Bandung

"Diskusi buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 & 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 - Anugerah Sastra Pena Kencana"
Minggu, 20/4/2008. 18:30 Waktu Indonesia bagian Bandung, @ Cafe PoTLuck, Jl. H Wasyid 31, Bandung. Bersama: Adi Wicaksono, Jamal D. Rahman, Hawe Setiawan (moderator), Ratih Kumala (pembaca puisi & cerpen). Datang, baca, kritik!

15 April 2008

Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup: Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis

Oleh: Prass Engky


Genesis
photo by kevindooley, some rights reserved.

I. Pendahuluan



Filsafat dan sastra mempunyai dasar pijak yang sama,yaitu realitas. Bila filsafat bertolak dari kenyataan lalu diabstraksikan, dicari jati dirinya, hakikatnya, maka sastra mulai dari apa yang ada dalam kenyataan lalu diolah lewat imajinasi. Imajinasi ini ada dalam cipta kemudian dituangkan dalam tulisan atau kata-kata (Sutrisno,1995: 16). Filsafat dan sastra bisa saling bergandengan. Kita dapat saja berfilsafat lewat sastra, apapun bentuknya. Hal ini telah dilakukan oleh kalangan sastrawan yang mengungkapkan dan mengkritisi realitas tertentu lewat kata-kata/bahasa.

Munculnya novelis-novelis perempuan dalam sastra Indonesia modern antara lain menunjukkan kerinduan dan semangat perempuan untuk menggarap dan mengkritisi realitas dari sudut pandang mereka. Ada muatan filosofi yang ingin diungkapkan lewat karya imajinatif mereka. Dalam tulisan ini, saya ingin ”mengais” (atau tepatnya: menafsir) muatan filosofi dari sebuah novel karya Ratih Kumala, berjudul Genesis. Sesuai dengan judulnya, makalah ini menyoroti tema ”kebebasan perempuan”, yang diperdalam dengan bantuan pandangan eksistensialisme Sartre.

13 April 2008

"Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono



Sehabis posting "5 Puisi yang Tak Tergantikan" masih kurang puas! Merasa ada puisi yang kurang, jadi maksa deh... puisinya pak SDD ditaruh di tiny-blog, dinyanyikan oleh Ari & Reda.

5 Puisi yang Tak Tergantikan


A poem a day will keep the doctor away.
-rk-

Inilah kenyataan umum yang saya tahu jika saya kebetulan bertemu dengan orang-orang yang jatuh cinta pada kata-kata: mereka membaca puisi. Kisah cinta saya pada sastra juga diawali perkenalan dengan puisi. Ketika itu, saya belum punya napas yang cukup panjang untuk menyelesaikan sebuah cerpen (apalagi novel). Saya menulis puisi-puisi pendek di buku harian saya tentang tema-tema sederhana, misalnya tentang dompet merah yang hilang. Ketika itu saya masih SMP. Dulu, saya pikir, menulis puisi itu gampang. Ternyata, lama kelamaan bagi saya menulis puisi lebih sulit dibanding menulis prosa. Maka itu, sekarang saya tahu diri; tidak menulis puisi. Sampai sekarang saya masih heran dengan mereka yang bilang bahwa menulis puisi itu gampang, bagi saya menulis puisi itu pekerjaan berpikir yang tak selesai-selesai.

Ada puisi-puisi yang bagi saya tak tergantikan. Puisi-puisi yang di awal pembelajaran penulisan saya sering menemani saya, terus menerus, dan membuat saya jatuh cinta pada sastra. Meniru acara tv E! Count Down, saya ingin menghitungnya dari yang nomor lima dan terus membuncit hingga nomor satu:

31 Maret 2008

MBSM di Singapore International Film Festival 2008


Setelah Jumat (29/03) lalu Titi Sjuman (pemeran Adjeng) dan Henidar Amroe (pemeran Mommy) memenangi Indonesian Movie Award 2008, MBSM kini akan maju ke Singapore International Film Festival 2008. Screening film MBSM tanggal 13 April 2008, pukul 11.00 waktu setempat di National Museum. Selain itu, juga ada acara A Tribute to Sjuman Djaya. Dua filmnya berjudul Si Mamad (1973) dan Kerikil-Kerikil Tajam (1987), semuanya akan screening pada tanggal 13 April 2008.

Wayang Rajakaya (Rajakaya Shadow Puppet)





Si kancil anak nakal/suka mencuri ketimun/ayo lekas dikurung/jangan diberi ampun!//



Ketika saya melihat klip Wayang Rajakaya di YouTube, lagu anak-anak berjudul Si Kancil tiba-tiba muncul di kepala saya. Herlambang Bayu Aji, atau yang lebih akrab saya panggil Gundul, mengirimkan video YouTube di atas. Betapa saya senang melihatnya perkembangannya. Bagaimana tidak, sekitar tiga tahun yang lalu, Gundul meminta saya membuat naskah untuk Wayang Rajakaya.

30 Maret 2008

Berdamai Dengan Air



Saya tidak akan pernah lupa nasihat ibu saya, "nyalakan air jika bak kamar mandi kosong. Isikan sampai sedikit meluber, tapi jangan biarkan air di kamar mandi terbuang banyak karena kran tak dimatikan." Bagi ibu saya, itu bukan sekedar nasehat berhemat air, itu juga falsafah hidupnya. Menyalakan air kran kamar mandi adalah metafora rejeki. Jika tampungan kosong maka rejeki harus diisi sampai penuh dan sedikit meluber (luberan air yang sedikit itu melambangkan 'pembersihan'). Tapi tidak boleh membuang rejeki dengan sia-sia (kran tak dimatikan). Sampai sekarang saya selalu mematikan kran air, sekaligus risih dengan kran yang tak dimatikan baik itu di rumah sendiri atau di tempat-tempat umum.

Happy B'Day Yiyi!

poto-estea.jpg

Yiyi ultah yang ke-8! Mommynya (Djenar Maesa Ayu) mengundangku waktu hari-H (21 Maret 2008), tapi aku tidak bisa ikut. Kata si Mom dengan pede, "kita mau ke Kidzania!" Lalu kuSMS si Mom, "beneran ke Kidzania? Ini kan libur panjang... emang bisa dapet tiket?" Terus si Mom jawab, "aku udah telepon Kidzania, katanya kalo sore sepi." Tak lama, aku dapat SMS lagi, "naq... betul, kita gak dapet tiket." Nah, kan! Beberapa hari kemudian si Mom telepon lagi, katanya, "naq... ayo kita ke Kidzania!" Aku tanya, "yakin dapet tiket?" Mom jawab, "yakin!" Ternyata sesiangan Mom sudah beli tiket duluan. Nah, di atas itu foto-foto kami pra-ke-Kidzania (foto di Kidzanianya sendiri masih di hape si Mom hehehe).

24 Maret 2008

Wajah Baru

Untuk menghindari kebosanan, blog ini pun mengalami perubahan wajah untuk kesekian kalinya. Tidak apa-apa, ya. Blog ini mempergunakan platform WordPress.org. Meskipun saya tak banyak tahu soal WordPress, tapi sepertinya merupakan platform yang paling banyak dipergunakan. Karena itu, banyak pula theme bagus gratisan. Lumayan, kan, kalau mau gunta-ganti baju sesuai musim dan suasana hati? Hehehe ....

23 Maret 2008

Datangnya dan Perginya: Obituari untuk Ibu Diyah Bekti Ernawati


Saya mengenal satu orang yang mengingatkan saya betul-betul akan kematian. Jika ia berbicara tentang kematian, selayaknya berbicara gosip selebriti di infotainment. Dan selalu..., selalu..., sepulang dari rumahnya membuat saya berpikir tentang hidup.

19 Maret 2008

Romantisme Islami "Ayat-Ayat Cinta"



Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan 'muslimah', melainkan 'muslim'). Menonton film Ayat-Ayat Cinta seraya mengingatkan saya pada Aa' Gym. Ingat sebelum Aa' Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa memuja dia sebagai 'laki-laki yang sempurna'. Setelah ia berpoligami, tiba-tiba pamornya turun drastis. Sekeras apa pun Aa' Gym mencoba memperbaiki 'kesalahannya' ini, cacat tetaplah cacat. Di mata ummatnya ia bukan lagi sempurna, meskipun di program tv Kick Andy dibela-belain pake acara nangis segala.

Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, 'muslim'... bukan 'muslimah') kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi.

08 Maret 2008

Epileptik


"Ya, dia anakku. Dia sakit."


Bagaimanakah sebuah penyakit bisa mempengaruhi hidup sebuah keluarga? Bagi keluarga Beauchard penyakit yang diderita anak tertua mereka lama kelamaan berlaku selayaknya kompas; menunjukkan ke arah mana keluarga ini akan pergi. Jean-Christope menderita epilepsi sejak kecil. Ia bisa terserang hingga tiga kali sehari, tanpa mengenal waktu maupun tempat. Jika serangannya terjadi, ia tiba-tiba menjadi lumpuh, pandangannya tak tentu, tak punya kontrol terhadap dirinya sendiri, air liurnya pun tumpah. Lalu, jika ini terjadi di tempat-tempat umum (dan kebetulan sering), maka orang-orang akan mengerumuninya. Dengan tatapan heran, jijik, takut, sekaligus bersemangat, orang-orang bergumam-gumam, mengata-ngatainya gila, perlu dibawa ke RSJ, kesurupan, atau paling bagus, ia dituduh idiot.

28 Februari 2008

Masyarakat Samin dalam Film Layar Lebar


Mbah diperankan oleh WS Rendra dalam salah satu adegan Lari Dari Blora


Masyarakat Samin adalah suku pedalaman yang ada di daerah Blora, kota kecil di Jawa Tengah. Sebagai orang yang sempat tinggal di daerah Jawa Tengah, saya lumayan akrab dengan kata “samin”. Kata ini biasanya berkembang fungsinya dalam percakapan sehari-hari sebagai ejekan yang artinya “gila”.

26 Februari 2008

Film Pendek Bukan Kerja Pendek


Billy: "gini ya..., kamu nanti ke situ terus aktingnya gini-gini...." (pak sutradara kasih pengarahan ke pemain)


Belum lama, seorang teman datang berkunjung. Ada yang menarik yang dibawanya, film pendek buatannya!

Alkisah, seorang gadis buta yang hidup dengan mendengar dan meraba. Hidupnya kesepian meski ia datang dari keluarga berada, ibunya telah meninggal dan ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Di tempat lain, seorang preman yang tuli dan gagu merencanakan untuk merampok sebuah rumah; rumah tempat tinggal gadis buta. Suatu hari, ketika gadis buta sedang sendirian, pencuri itu masuk. Interaksi kemudian terjadi, antara gadis buta yang mengira perampok itu adalah ayahnya dan perampok tuli/gagu yang tak mau menyakiti gadis buta tersebut.

20 Februari 2008

Jalan Sesama - Sesame Street Indonesia


Momon dan Putri

Ah, akhirnya tayang juga! Tahun lalu, selama satu tahun saya lumayan berpusing-pusing ria untuk membuat naskah acara ini; Jalan Sesama. Selain karena Sesame Workshop punya aturan khusus untuk penulisan naskahnya, juga jatah tulisan yang lumayan banyak yang harus kami selesaikan. Kami berempat; aku, Uky Atmamihardja, Devi Permatasari dan Pahala Sigiro kerja kelompok dipimpin oleh Trusye sebagai headwriter sekaligus scriptwriter juga.

19 Februari 2008

"Ah Kauw"



Sudah hampir dua puluh lima tahun Ah Kauw menjadi penggali kubur. Jika kau mengira ia bekerja sebagai penggali kubur bagi mereka yang mati, maka kau salah.

Tadinya ia menggali kubur untuk orang yang sudah mati, seperti penggali kubur kebanyakan. Sampai suatu hari, Koh Hien, orang yang dikenal Ah Kauw sebagai pemilik toko yang menjual barang-barang untuk keperluan kematian orang-orang Tionghoa, menawarinya pekerjaan yang lebih menghasilkan uang di Jakarta.

Baca selengkapnya di sini: Suara Merdeka, 17 Februari 2008 (Home-Entertainment-Cerpen)

18 Februari 2008

"The Man Across The Street"


Would you believe I have been in this nursing home for 20 years? I wonder why I have outlived all my friends. It's not like I ever prayed for a drawn-out "life-sucking" existence.

Being old is no fun. I have had three strokes and three heart attacks. My doctor reckoned the third heart attack would take me out. He was wrong.

My kids and grandchildren say they are happy I'm still here.

So why did they put me in a home? I hate it here; gathered together with the other old folk.

I want to be cremated like my friends. I want my ashes to be poured into the sea, as were my son's and my husband's more than 10 years ago.

Baca lanjutannya / Read more at The Jakarta Post, 17 February 2008

17 Februari 2008

Happy B'day Apsas!

Di ultah komunitas milis sastra ke-3, apresiasi-sastra@ yahoogroups.com, teman-teman yang biasanya ngobrol di dunia maya kali ini kopi darat. Di Japan Foundation, teman-teman Apsas bertemu dan bersastra; mulai dari launching buku, pertunjukan teater, diskusi, monolog, sampai baca puisi yang dulu pernah diposting ke milis oleh anggota-anggotanya. Ada acara potong tumpeng segala lho!

[gallery]

15 Februari 2008

Valentine Bersama Puisi

SIA-SIA
Puisi: Chairil Anwar

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.



Ada yang spesial hari ini, 14 Februari 2008. Bukan karena ini hari Valentine, bukan.... Melainkan karena dua orang yang saya kagumi karya-karyanya membaca puisi di depan saya. Sejujurnya, memulai hari ini bagi saya cukup menjengkelkan. Hujan sejak pagi, padahal saya harus keluar rumah untuk beberapa urusan. Hujan hari ini seperti stop kontak yang error. Nyetrum-enggak-nyetrum-enggak.

13 Februari 2008

Perubahan Identitas Buku Terjemahan


Jika perbedaan banyak bahasa ibarat hulu dan hilir yang terpisah oleh sebuah sungai, maka penerjemah adalah jembatan di atas sungai itu; inilah yang saya pelajari ketika saya kuliah dulu. Penerjemahan merupakan mata kuliah favorit saya, bahkan saya memutuskan untuk mengambil penerjemahan untuk skripsi saya. Bagi saya menerjemahkan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Saya berpikir berpuluh-puluh kali jika harus menerjemahkan satu karya, apalagi kalau itu bukan karya saya sendiri.

Akhir-akhir ini, ada hal yang menyentil ketika saya berkunjung ke toko buku. Buku pertama yang saya lihat adalah The Inheritance of Loss karya Kiran Desai diterjemahkan menjadi Senja di Himalaya (penerbit Hikmah). Awalnya, saya merasa 'lucu' dengan judul terjemahan ini. Tetapi kemudian saya menemukan beberapa buku terjemahan lain dengan judul berubah total. Di antaranya yang saya catat adalah Kafka on the Shore karya Haruki Murakami menjadi Labirin Asmara Ibu dan Anak (penerbit Alvabet), The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom menjadi Meniti Bianglala (GPU), dan Great Expectations karya Charles Dickens menjadi Teman Istimewa (penerbit Narasi).

Anak Hilang


Ketika pada tahun 2006 tiba-tiba Pluto dinyatakan bukan lagi sebagai planet, Clyde W. Tombaugh berkata, bahwa rasanya seperti kelihatangan anak....


Banyak cara mencari anak yang hilang. Orang Amerika mencarinya dengan cara menempelkan wajah anak hilang di kotak susu. Ada juga yang menempelkan pengumuman di dinding-dinding jalanan, dan banyak yang pasang iklan di koran.

28 Januari 2008

Mr. President and I

harto-0.jpeg

I remember the day a letter arrived, a big brown envelope with the logo of Republic of Indonesia on it and it addressed to ME! I was a Junior High student, just moved to Solo city and didn't speak Javanese. I had no friend, so I drawn myself in magazines, popular teenage books, and... letters -lots of pen-pal! I forget the reason or what I wrote in the letter I sent to Mr. President Soeharto. But, he (or his official administration) answered my letter! The man actually answered my letter! I got his pic with The First Lady, Mrs. Tien Soeharto, and his autograph! Also his letter, but I forget what's in it. But it was a printed letter, which, I think it's the same letter sent to all the kids who wrote him. Now I wonder... where was I keep the letter?




10 Januari 2008

Adegan Klise di Film

"Fangkly my dear, I dont give a damn."
(kalimat dan agedan terkenal dalam film Gone With The Wind)

Seberapa sering anda mengingat adegan dalam film yang pernah ditonton? Kutipan di atas misalnya, ketika Scarlet O'Hara menahan kekasihnya Reth Butler. Tapi dengan acuh Reth malah menjawab demikian. Jangan lupa pula dengan adegan terkenal di serial film layar lebar James Bond. Akting yang khas ketika James Bond memperkenalkan dirinya, selalu dengan kalimat; "My name is Bond. James Bond." Sambil bergaya kharismatik, membuat lawan bicaranya (terutama perampuan) jadi termehek-mehek.

08 Januari 2008

Buronan Taksi

"Your fugitive's name is Dr. Richard Kimble. What I want out of everyone of you is a hard-target search, of every gas station, residence, warehouse, farmhouse, henhouse, outhouse and doghouse in that area!"
-lines of Deputy Marshal Samuel Gerard (Tommy Lee Jones) at The Fugitive, the movie-



Bagaimanakah rasanya jadi buronan? Pertanyaan ini muncul di benak saya ketika saya pulang dari Blok M setelah janjian dengan seorang teman. Baru sekarang saya heran dengan orang-orang yang pakai kaos betuliskan besar-besar "Buronan Mertua". Pernahkan mereka betul-betul membayangkan, seandainya mereka benar jadi buronan mertua?

Cerita tentang Ipah dan Kucing-Kucingnya

Kronik Betawi, Sebuah Novel:
Different are the rewards of those who come to heaven; hapines is bestowed on them; delightful their state; verily they have arrived in the land of silver. Truly yoy are directed to a place which is exalted, pointed by Dewas, who preside at death and become your guide; because the dead are mixed in a land which is wide and level, are given occupations and quickly go, each flying to the first place until arrive at the seventh
-Sir Thomas Stamford Raffles: History of Java, page cxxix-



Tidak sejak Juleha kecil ibunya hobi memelihara kucing. Kesenangan itu mulai muncul ketika ia selesai menikahkan anaknya yang paling kecil, Juleha, dengan Jiih. Suaminya, Bung Juned, semakin lama semakin lebih betah tinggal di Serang, di rumah bini ke duanya. Apalagi setelah anak terakhir mereka menikah. Seakan-akan Bung Juned sudah tidak punya tanggungan lagi di rumah bini pertamanya. Tak sampai satu tahun Juleha menikah, seekor kucing kampung datang mendekati Ipah. Ketika itu ia tengah menunggu suaminya pulang, seperti kemarin-kemarin. Tetapi laki-laki itu tak kunjung datang; ia tak pernah memberitahu Ipah kapan bakal kembali, dan berapa lama ia akan di Serang. Toh setiap hari, selayaknya bakti setia seorang istri, Ipah menyiapkan makanan untuk dua orang.

07 Januari 2008

The Grass is Singing: Skenario Terburuk Perempuan

Nobel Kesusatraan

“Sjambok itu tergantung di depan pintu rumahnya, seperti slogan yang terpampang di dinding: Jangan ragu untuk membunuh jika memang perlu.” Demikian tulis Doris Lessing dalam novel debutnya.


Sjambok (cambuk khas Afrika) merupakan perlambang kekuasaan kulit putih yang mendominasi di Afrika Selatan. Sjambok biasa digantungkan di dinding atau pintu depan rumah orang kulit putih untuk menakut-nakuti para pekerjanya, orang kulit hitam. Seperti inilah gambaran zaman perbudakan sebelum tahun 50-an, yang menjadi latar novel The Grass is Singing.

Bagi penulis generasi sekarang, terutama di Indonesia (tak terkecuali saya), baru mendengar nama Doris Lessing ketika ia disebut sebagai pemenang Nobel Kesusastraan 2007 pada Oktober lalu. Namanya tak muncul secuil pun dalam taruhan siapa pemenang Nobel Kesusastraan 2007 yang marak di internet. Bahkan bisa dibilang, ia mungkin telah dilupakan. Pada tanggal 10 Desember 2007, perempuan berusia 87 tahun ini menerima hadiah sebesar 1,5 juta dollar AS di Kantor Pusat Akademi Nobel, Stockholm. Saya memutuskan untuk "berkenalan" dengannya melalui The Grass is Singing.

01 Januari 2008

"Tulah"


foto oleh place light -on a project-, some rights reserved

Darah Domba di Pintu Budak.
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku, mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanyakan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.

Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba, sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun. Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugembar-gemborkan namun tak hendak didengarkan.