28 Januari 2008

Mr. President and I

harto-0.jpeg

I remember the day a letter arrived, a big brown envelope with the logo of Republic of Indonesia on it and it addressed to ME! I was a Junior High student, just moved to Solo city and didn't speak Javanese. I had no friend, so I drawn myself in magazines, popular teenage books, and... letters -lots of pen-pal! I forget the reason or what I wrote in the letter I sent to Mr. President Soeharto. But, he (or his official administration) answered my letter! The man actually answered my letter! I got his pic with The First Lady, Mrs. Tien Soeharto, and his autograph! Also his letter, but I forget what's in it. But it was a printed letter, which, I think it's the same letter sent to all the kids who wrote him. Now I wonder... where was I keep the letter?




10 Januari 2008

Adegan Klise di Film

"Fangkly my dear, I dont give a damn."
(kalimat dan agedan terkenal dalam film Gone With The Wind)

Seberapa sering anda mengingat adegan dalam film yang pernah ditonton? Kutipan di atas misalnya, ketika Scarlet O'Hara menahan kekasihnya Reth Butler. Tapi dengan acuh Reth malah menjawab demikian. Jangan lupa pula dengan adegan terkenal di serial film layar lebar James Bond. Akting yang khas ketika James Bond memperkenalkan dirinya, selalu dengan kalimat; "My name is Bond. James Bond." Sambil bergaya kharismatik, membuat lawan bicaranya (terutama perampuan) jadi termehek-mehek.

08 Januari 2008

Buronan Taksi

"Your fugitive's name is Dr. Richard Kimble. What I want out of everyone of you is a hard-target search, of every gas station, residence, warehouse, farmhouse, henhouse, outhouse and doghouse in that area!"
-lines of Deputy Marshal Samuel Gerard (Tommy Lee Jones) at The Fugitive, the movie-



Bagaimanakah rasanya jadi buronan? Pertanyaan ini muncul di benak saya ketika saya pulang dari Blok M setelah janjian dengan seorang teman. Baru sekarang saya heran dengan orang-orang yang pakai kaos betuliskan besar-besar "Buronan Mertua". Pernahkan mereka betul-betul membayangkan, seandainya mereka benar jadi buronan mertua?

Cerita tentang Ipah dan Kucing-Kucingnya

Kronik Betawi, Sebuah Novel:
Different are the rewards of those who come to heaven; hapines is bestowed on them; delightful their state; verily they have arrived in the land of silver. Truly yoy are directed to a place which is exalted, pointed by Dewas, who preside at death and become your guide; because the dead are mixed in a land which is wide and level, are given occupations and quickly go, each flying to the first place until arrive at the seventh
-Sir Thomas Stamford Raffles: History of Java, page cxxix-



Tidak sejak Juleha kecil ibunya hobi memelihara kucing. Kesenangan itu mulai muncul ketika ia selesai menikahkan anaknya yang paling kecil, Juleha, dengan Jiih. Suaminya, Bung Juned, semakin lama semakin lebih betah tinggal di Serang, di rumah bini ke duanya. Apalagi setelah anak terakhir mereka menikah. Seakan-akan Bung Juned sudah tidak punya tanggungan lagi di rumah bini pertamanya. Tak sampai satu tahun Juleha menikah, seekor kucing kampung datang mendekati Ipah. Ketika itu ia tengah menunggu suaminya pulang, seperti kemarin-kemarin. Tetapi laki-laki itu tak kunjung datang; ia tak pernah memberitahu Ipah kapan bakal kembali, dan berapa lama ia akan di Serang. Toh setiap hari, selayaknya bakti setia seorang istri, Ipah menyiapkan makanan untuk dua orang.

07 Januari 2008

The Grass is Singing: Skenario Terburuk Perempuan

Nobel Kesusatraan

“Sjambok itu tergantung di depan pintu rumahnya, seperti slogan yang terpampang di dinding: Jangan ragu untuk membunuh jika memang perlu.” Demikian tulis Doris Lessing dalam novel debutnya.


Sjambok (cambuk khas Afrika) merupakan perlambang kekuasaan kulit putih yang mendominasi di Afrika Selatan. Sjambok biasa digantungkan di dinding atau pintu depan rumah orang kulit putih untuk menakut-nakuti para pekerjanya, orang kulit hitam. Seperti inilah gambaran zaman perbudakan sebelum tahun 50-an, yang menjadi latar novel The Grass is Singing.

Bagi penulis generasi sekarang, terutama di Indonesia (tak terkecuali saya), baru mendengar nama Doris Lessing ketika ia disebut sebagai pemenang Nobel Kesusastraan 2007 pada Oktober lalu. Namanya tak muncul secuil pun dalam taruhan siapa pemenang Nobel Kesusastraan 2007 yang marak di internet. Bahkan bisa dibilang, ia mungkin telah dilupakan. Pada tanggal 10 Desember 2007, perempuan berusia 87 tahun ini menerima hadiah sebesar 1,5 juta dollar AS di Kantor Pusat Akademi Nobel, Stockholm. Saya memutuskan untuk "berkenalan" dengannya melalui The Grass is Singing.

01 Januari 2008

"Tulah"


foto oleh place light -on a project-, some rights reserved

Darah Domba di Pintu Budak.
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku, mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanyakan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.

Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba, sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun. Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugembar-gemborkan namun tak hendak didengarkan.