Hari ini, saya girang sekali (sampai-sampai memutuskan untuk menulis di blog). Pasalnya, (akhirnya) saya nonton juga The Forbidden Kingdom. Malam minggu lalu, bersama dua orang teman dekat, saya dan suami pindah bioskom tiga kali hanya karena ingin nonton ini. Semua bioskop yang kami datangi full! Kami akhirnya pulang membawa penasaran. Hari Minggu, teman kami (yang malam sebelumnya keliling bersama ke tiga bioskop), SMS dan manas-manasin betapa kerennya The Forbidden Kingdom. Jadilah.... Maksa, hari ini bangun tidur kuterus mandi, tak lupa menggosok gigi, tak membersihkan tempat tidur, tapi langsung ke bioskop Jakarta Teater, antre beli tiket nonton The Forbidden Kingdom. Dua orang aktor yang saya kagumi sejak dulu main di film ini; Jackie Chan dan Jet Li. Satu hal yang lebih membuat saya lebih semangat lagi adalah, tema besar film ini adalah (eng ing eng...) Sun Go Kong, si Raja Kera! Hore!!!
22 April 2008
The Forbidden Kingdom
Hari ini, saya girang sekali (sampai-sampai memutuskan untuk menulis di blog). Pasalnya, (akhirnya) saya nonton juga The Forbidden Kingdom. Malam minggu lalu, bersama dua orang teman dekat, saya dan suami pindah bioskom tiga kali hanya karena ingin nonton ini. Semua bioskop yang kami datangi full! Kami akhirnya pulang membawa penasaran. Hari Minggu, teman kami (yang malam sebelumnya keliling bersama ke tiga bioskop), SMS dan manas-manasin betapa kerennya The Forbidden Kingdom. Jadilah.... Maksa, hari ini bangun tidur kuterus mandi, tak lupa menggosok gigi, tak membersihkan tempat tidur, tapi langsung ke bioskop Jakarta Teater, antre beli tiket nonton The Forbidden Kingdom. Dua orang aktor yang saya kagumi sejak dulu main di film ini; Jackie Chan dan Jet Li. Satu hal yang lebih membuat saya lebih semangat lagi adalah, tema besar film ini adalah (eng ing eng...) Sun Go Kong, si Raja Kera! Hore!!!
19 April 2008
Terapi Dapur Nigella Lawson
If you can organize your kitchen, you can organize your life
(Louis Parrish)
Ini dia perempuan yang sekitar satu tahun ini membuat saya takjub, Nigella Lawson. Sejujurnya, saya baru mengenalnya satu tahun terakhir gara-gara nonton acara dia Nigella's Feast, Nigella's Bites, Forever Summer with Nigella dan yang terakhir Nigella Express di kanal Discovery Travel and Living.
Tidak seperti pembawa acara masak-memasak di Indonesia yang lazim kita kenal di tv, sangat kaku, bertujuan memberi tutorial masak memasak untuk pemirsa, dan berusaha berramah-tamah (meskipun hanya satu arah). Sebaliknya, Nigella lebih personal. Konon, syutingnya pun dilakukan di rumah sendiri. Dan satu resep, disyut hingga empat kali untuk kesempurnaan hasil akhir! Lebih dari itu, kelihatan sekali Nigella berusaha menggunakan latar yang minimalis tetapi tetap berkesan hangat. Kok bisa ya? Padahal selama ini, penataan ruang yang minimalis berkesan sangat "dingin". Tapi tidak di acara Nigella. Kesan minimalis saya tangkap dari pilihan warna barang-barang yang ada di situ, bahkan warna pakaiannya pun terlihat jelas dipilih khusus. Kesan hangat yang "tersembunyi" itu, saya dapatkan dari sosok Nigellanya sediri (yang tak bosan-bosannya tersenyum dan bercerita tentang persona dirinya sendiri), juga dari masakan-masakan yang dibuatnya.
invitation, buat teman2 di Bandung
"Diskusi buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 & 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 - Anugerah Sastra Pena Kencana"
Minggu, 20/4/2008. 18:30 Waktu Indonesia bagian Bandung, @ Cafe PoTLuck, Jl. H Wasyid 31, Bandung. Bersama: Adi Wicaksono, Jamal D. Rahman, Hawe Setiawan (moderator), Ratih Kumala (pembaca puisi & cerpen). Datang, baca, kritik!
Minggu, 20/4/2008. 18:30 Waktu Indonesia bagian Bandung, @ Cafe PoTLuck, Jl. H Wasyid 31, Bandung. Bersama: Adi Wicaksono, Jamal D. Rahman, Hawe Setiawan (moderator), Ratih Kumala (pembaca puisi & cerpen). Datang, baca, kritik!
15 April 2008
Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup: Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis
Oleh: Prass Engky
photo by kevindooley, some rights reserved.
I. Pendahuluan
Filsafat dan sastra mempunyai dasar pijak yang sama,yaitu realitas. Bila filsafat bertolak dari kenyataan lalu diabstraksikan, dicari jati dirinya, hakikatnya, maka sastra mulai dari apa yang ada dalam kenyataan lalu diolah lewat imajinasi. Imajinasi ini ada dalam cipta kemudian dituangkan dalam tulisan atau kata-kata (Sutrisno,1995: 16). Filsafat dan sastra bisa saling bergandengan. Kita dapat saja berfilsafat lewat sastra, apapun bentuknya. Hal ini telah dilakukan oleh kalangan sastrawan yang mengungkapkan dan mengkritisi realitas tertentu lewat kata-kata/bahasa.
Munculnya novelis-novelis perempuan dalam sastra Indonesia modern antara lain menunjukkan kerinduan dan semangat perempuan untuk menggarap dan mengkritisi realitas dari sudut pandang mereka. Ada muatan filosofi yang ingin diungkapkan lewat karya imajinatif mereka. Dalam tulisan ini, saya ingin ”mengais” (atau tepatnya: menafsir) muatan filosofi dari sebuah novel karya Ratih Kumala, berjudul Genesis. Sesuai dengan judulnya, makalah ini menyoroti tema ”kebebasan perempuan”, yang diperdalam dengan bantuan pandangan eksistensialisme Sartre.
13 April 2008
"Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono
Sehabis posting "5 Puisi yang Tak Tergantikan" masih kurang puas! Merasa ada puisi yang kurang, jadi maksa deh... puisinya pak SDD ditaruh di tiny-blog, dinyanyikan oleh Ari & Reda.
5 Puisi yang Tak Tergantikan
A poem a day will keep the doctor away.
-rk-
Inilah kenyataan umum yang saya tahu jika saya kebetulan bertemu dengan orang-orang yang jatuh cinta pada kata-kata: mereka membaca puisi. Kisah cinta saya pada sastra juga diawali perkenalan dengan puisi. Ketika itu, saya belum punya napas yang cukup panjang untuk menyelesaikan sebuah cerpen (apalagi novel). Saya menulis puisi-puisi pendek di buku harian saya tentang tema-tema sederhana, misalnya tentang dompet merah yang hilang. Ketika itu saya masih SMP. Dulu, saya pikir, menulis puisi itu gampang. Ternyata, lama kelamaan bagi saya menulis puisi lebih sulit dibanding menulis prosa. Maka itu, sekarang saya tahu diri; tidak menulis puisi. Sampai sekarang saya masih heran dengan mereka yang bilang bahwa menulis puisi itu gampang, bagi saya menulis puisi itu pekerjaan berpikir yang tak selesai-selesai.
Ada puisi-puisi yang bagi saya tak tergantikan. Puisi-puisi yang di awal pembelajaran penulisan saya sering menemani saya, terus menerus, dan membuat saya jatuh cinta pada sastra. Meniru acara tv E! Count Down, saya ingin menghitungnya dari yang nomor lima dan terus membuncit hingga nomor satu:
Langganan:
Komentar (Atom)