29 Agustus 2008

The Power of "Surat Pembaca"

Prolog

Dari sekian banyak artikel di blog ini, inilah artikel yang saya anggap paling penting yang pernah saya tulis.

 

Antara saya, mamah saya dan Asuransi Bumiputera

Setelah papah saya meninggal dunia, dan saya mudik ke Solo untuk pemakamannya, kami menghadapi satu masalah lain yang membuat mamah saya jadi lebih ikhlas, legowo, sekaligus semeleh. Lain mamah, lain pula saya yang masih saja meledak-ledak, sehingga saya memutuskan untuk menulis surat pembaca berikut:

 "Agen Bumi Putera Tidak Menagih, Klien yang Disalahkan"




Ibu saya peserta asuransi jiwa Bumi Putera (cabang Solo) dengan nomor polis 2000341973. Sebelumnya, ibu saya mengikuti asuransi pendidikan untuk anak-anaknya, dan tidak pernah ada masalah. 

Asuransi jiwa yang ibu saya ikuti sejak tahun 2000, seharusnya memberikan perlindungan ketika orangtua saya (baik ibu/bapak) meninggal. Polis asuransi tersebut dibayarkan setiap enam bulan sekali, yaitu bulan Oktober dan April, sebesar Rp. 438.744. Selama mengikuti asuransi, ibu saya tidak pernah menunggak. Agen asuransi, Ibu Yohana, selalu datang ke rumah untuk menagih polis asuransi.  

Entah kenapa, pada bulan April 2008, Ibu Yohana tidak datang. Juga tak ada agen lain yang datang menggantikannya, seandainya ada pergantian agen. 

28 Agustus 2008

Telat Balikin Buku = Kriminal



Saya menemukan berita yang menarik perhatian saya:

"Heidi Dalibor (20 thn), warga Wisconsin, AS, cuek saja ketika suatu hari disurati dan ditelepon untuk membayar denda peminjaman buku dari perpustakaan. Tak dinyana, ancaman "kalau tidak mengindahakan akan dibawa ke pengadilan" benar-benar terjadi. Dua polisi mendatanginya dan membawa surat perintah hakim, lalu memborgolnya. Heidi dibawa ke kantor polisi, lalu difoto layaknya kriminal, tuduhannya: melecehkan perpustakaan." (Sumber: Jawa Pos Minggu, 24 Agustus 2008)

Wah!

Seandainya saja pemerintah kita memperhatikan perpustakaan seserius itu. Tentu dokumentasi naskah sangat terjamin. Tahukan Anda, bahwa buku serial komik Petruk bisa komplit ditemui di perpustakaan Belanda? Dan novel bergenre seram milik Abdullah Harahap ada di perpustakaan di Amerika (saya tahu ini dari Intan Paramadita) lebih dari seratus judul. Bisa ditebak, naskah-naskah mereka tidak diperhitungkan di negara kita sebagai "sastra" dengan tanda kutip. Jadi naskah-naskah macam itu terlupakan.

20 Agustus 2008

Ugoran Nikah!

Mudik ke Solo dalam rangka papah meninggal, ternyata bisa terhibur juga. Tadinya saya dan Eka akan kembali ke Jakarta dalam tiga atau empat hari, ternyata tanggal 16 Agustus kami dapat berita Ugoran Prasad menikah di Solo. Dan... yang lebih bikin saya sumringah adalah, tempat resepsi dan jam acara dimulai sama! (di Grha Niekmat Rasa, jam 10 siang). Weee... kok bisa ya?! Selamat menempuh hidup baru buat Ugo dan Nini, selamat bergabung di 'dunia nyata'! :)

16 Agustus 2008

Gerhana Kembar, Sebuah Perspektif


Saya menyebut novel Gerhana Kembar karya Clara Ng sebagai novel tentang lesbian tanpa pretensi yang mencurigakan. Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Dua plot utama yang ada pada novel ini yaitu pada tahun '60-an dan pada tahun 2008. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Pada bab berikutnya, pembaca baru tahu bahwa Fola dan Henrietta adalah tokoh fiktif sebuah naskah berjudul "Gerhana Kembar" yang tengah dibaca oleh Lendy, pada tahun 2008. Sedikit demi sedikit, terkuak bahwa naskah "Gerhana Kembar" ditulis oleh Diana, nenek Lendy yang tengah sekarat, dan cerita itu berdasarkan pengalaman Diana dengan Selina, pasangan lesbinya ketika muda.

09 Agustus 2008

Obituari



Papahku sekarat ketika Olimpiade di Beijing dibuka, tanggal 8-8-08. Saya, Eka, dan beberapa teman sedang berada di Oh La La-Sarinah, ketika melihat pembawa obor 'terbang' ditarik tali, mengelilingi stadium untuk menyulutkan api. Seperti itulah saya ingin: terbang saat itu juga menuju Solo.

05 Agustus 2008

Tahi Lalat Ipong



Ipong punya banyak tahi lalat: ini kesimpulan saya setelah melihat pameran lukisannya di Vivi Yip Art Room (Sabtu, 2 Agustus 2008). Di banyak lukisan, bagian leher ke atas, saya menemukan satu titik cat. Awalnya, saya pikir itu karena dia doyan mencorat-coret hasil lukisannya dengan cat yang kelihatannya sengaja dicairkan dan diacak -rada mirip abstrak gitu deh, tapi bukan- (kalo baca katalognya, katanya ini 'teknik dripping' ...gile, udah bisa nyontek teori seni nih tiba2 hahahahaha). Tapi setelah diamat-amati lagi, kelihatannya dia sengaja menjatuhkan satu titik tinta ke bagian tertentu, dan... eng-ing-eng... jadi deh tahi lalat! Saya membayangkan, ruang lukis dia pasti berantakan, cat di mana-mana. Mungkin juga, dia punya satu kaos khusus yang dia pakai berulang-ulang hanya untuk melukis, baju yang khusus dikorbankan kena cat acrylic. Ya, mirip-mirip ama tukang cat gitu deh... he he he.