Matabaca, edisi Desember 2008
Lahir
Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.
Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.