[caption id="attachment_333" align="alignleft" width="300" caption="festival ketika musim gugur di kuil yang saya tidak tahu namanya"]

[/caption]
Ketika saya berkunjung ke Jepang tahun 2008 lalu, musim gugur hampir di penghujung, tetapi salju belum turun, jalan belum licin. Meski daun-daun yang kuning sebagian sudah berubah cokelat, tetapi angin di Tokyo cukup hangat untuk sekedar mengenakan pakaian dua lapis dan sebuah syal. Cukup nyaman untuk seorang yang biasa hidup di daerah tropis sepanjang tahun. Ornamen-ornamen natal terlihat berkerlap-kerlip di sepanjang jalan. Salah satu yang paling semarak adalah hiasan natal di depan Tokyo Tower. Lebih dari itu, 2008 juga ulangtahun Tokyo Tower ke-50. Tak heran jika di badan menara ini tertulis “50” dengan lampu gemerlap sehingga terlihat dari jauh. Meski mayoritas orang Jepang bukan beragama Kristiani, tetapi mereka suka sekali dengan segala perayaan. Tak hanya perayaan kepercayaan Shinto, tetapi juga hari Valentine, Hallowen, dan kini, menyambut Natal. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah kesukaan mereka pada benda-benda kecil (miniatur) dan tiruan. Mulai dari tiruan makanan, miniatur tokoh-tokoh anime, hingga miniatur kota Tokyo jaman dulu yang sangat detil digelar di lantai bawah Tokyo Tower.
Seorang teman pernah bercerita pada saya, sepulang dari Jepang, kerabat-kerabat Jepangnya membawakan sedikit kenang-kenangan yang –biarpun kecil- dibungkus lucu-lucu, disertai ucapan yang agak panjang. Kadang, ucapan itu juga menjelaskan kenapa ia memberikan hadiah tertentu untuk orang itu. Di mata saya, perayaan apapun bagi orang Jepang kelihatannya berkaitan dengan kesukaan mereka memberi hadiah yang mungil-mungil. Toko kertas (yang saya maksud di sini bukan sekedar toko kertas menjual HVS rim-riman seperti di Indonesia, tetapi juga meliputi kertas kado dengan warna dan pola unik) mungkin belum terlihat ramai, tapi jangan khawatir… tak lama lagi antriannya pasti akan panjang, dipenuhi orang-orang yang ingin mengemas hadiah Natal.