18 Februari 2008

"The Man Across The Street"


Would you believe I have been in this nursing home for 20 years? I wonder why I have outlived all my friends. It's not like I ever prayed for a drawn-out "life-sucking" existence.

Being old is no fun. I have had three strokes and three heart attacks. My doctor reckoned the third heart attack would take me out. He was wrong.

My kids and grandchildren say they are happy I'm still here.

So why did they put me in a home? I hate it here; gathered together with the other old folk.

I want to be cremated like my friends. I want my ashes to be poured into the sea, as were my son's and my husband's more than 10 years ago.

Baca lanjutannya / Read more at The Jakarta Post, 17 February 2008

17 Februari 2008

Happy B'day Apsas!

Di ultah komunitas milis sastra ke-3, apresiasi-sastra@ yahoogroups.com, teman-teman yang biasanya ngobrol di dunia maya kali ini kopi darat. Di Japan Foundation, teman-teman Apsas bertemu dan bersastra; mulai dari launching buku, pertunjukan teater, diskusi, monolog, sampai baca puisi yang dulu pernah diposting ke milis oleh anggota-anggotanya. Ada acara potong tumpeng segala lho!

[gallery]

15 Februari 2008

Valentine Bersama Puisi

SIA-SIA
Puisi: Chairil Anwar

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.



Ada yang spesial hari ini, 14 Februari 2008. Bukan karena ini hari Valentine, bukan.... Melainkan karena dua orang yang saya kagumi karya-karyanya membaca puisi di depan saya. Sejujurnya, memulai hari ini bagi saya cukup menjengkelkan. Hujan sejak pagi, padahal saya harus keluar rumah untuk beberapa urusan. Hujan hari ini seperti stop kontak yang error. Nyetrum-enggak-nyetrum-enggak.

13 Februari 2008

Perubahan Identitas Buku Terjemahan


Jika perbedaan banyak bahasa ibarat hulu dan hilir yang terpisah oleh sebuah sungai, maka penerjemah adalah jembatan di atas sungai itu; inilah yang saya pelajari ketika saya kuliah dulu. Penerjemahan merupakan mata kuliah favorit saya, bahkan saya memutuskan untuk mengambil penerjemahan untuk skripsi saya. Bagi saya menerjemahkan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Saya berpikir berpuluh-puluh kali jika harus menerjemahkan satu karya, apalagi kalau itu bukan karya saya sendiri.

Akhir-akhir ini, ada hal yang menyentil ketika saya berkunjung ke toko buku. Buku pertama yang saya lihat adalah The Inheritance of Loss karya Kiran Desai diterjemahkan menjadi Senja di Himalaya (penerbit Hikmah). Awalnya, saya merasa 'lucu' dengan judul terjemahan ini. Tetapi kemudian saya menemukan beberapa buku terjemahan lain dengan judul berubah total. Di antaranya yang saya catat adalah Kafka on the Shore karya Haruki Murakami menjadi Labirin Asmara Ibu dan Anak (penerbit Alvabet), The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom menjadi Meniti Bianglala (GPU), dan Great Expectations karya Charles Dickens menjadi Teman Istimewa (penerbit Narasi).

Anak Hilang


Ketika pada tahun 2006 tiba-tiba Pluto dinyatakan bukan lagi sebagai planet, Clyde W. Tombaugh berkata, bahwa rasanya seperti kelihatangan anak....


Banyak cara mencari anak yang hilang. Orang Amerika mencarinya dengan cara menempelkan wajah anak hilang di kotak susu. Ada juga yang menempelkan pengumuman di dinding-dinding jalanan, dan banyak yang pasang iklan di koran.