26 April 2009

“Baju Seragam Anak Pemulung” : Sinetron Lepas Terpuji dari Forum Film Bandung 2009

seragamsd

Tanggal 24 April 2009 malam, sebuah SMS menggembirakan datang dari Executive Produser saya, salah satu FTV program Bioskop Indonesia menang sebagai kategori Sinetron Lepas Terpuji dari Forum Film Bandung 2009. FTV ini berjudul “Baju Seragam Anak Pemulung”, berkisah tentang dua anak pemulung, Evi dan Akil, yang ingin terus sekolah.

Evi dan Akil -dua tokoh dalam FTV ini- adalah kakak beradik yang kurang beruntung. Mereka sebenarnya diajar oleh kakeknya, hingga kakek mereka punya uang yang cukup untuk menyekolahkan keduanya. Betapa bangganya sang kakek, ketika melihat kedua cucunya berseragam sekolah merah-putih dengan dasi. Sayangnya, ketika pulang, kakek yang sedang mulung ditabrak truk dan meninggal. Sejak itu, Evi dan Akil tinggal bersama Bibi dan Otoy, sepupu mereka yang gendut, super songong dan hobi makan. Di rumah bibinya, Evi dan Akil masih tetap berusaha untuk mandiri. Bagaimanapun, bibi mereka bukanlah orang kaya, hanya seorang janda yang berjualan pecel untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

04 April 2009

belajar ikhlas

Sedang belajar ikhlas lagi....
Semua kembali pada-Nya.
Pergi satu orang lagi, berduka lagi.
Selamat jalan sepupuku tersayang, sakitmu telah diangkat
(in memoriam: Mbak Ida)
Dan hidup pun berjalan lagi....

01 April 2009

Berguru pada Televisi

television-paintingTiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan passion, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya.

Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa 30 Rock membuat tokoh Kenneth dalam serialnya. Dia berasal dari kampung, anak udik yang kaget dengan gemerlapnya New York City. Matanya berbinar-binar jika melihat artis mampir di NBC, tempatnya bekerja. Dia anak kampung yang hampir seluruh hidupnya bergelut dengan peternakan, kini bisa menjadi bagian televisi.

Selama hampir enam bulan saya sudah benar-benar nyemplung di telvisi, selama itu pula menjadi pembuka mata saya akan dunia televisi. Saya, pernah seperti orang-orang yang tidak setuju dengan "pembodohan televisi", sempat menganggap televisi adalah "sampah", dan percaya bahwa too much TV makes your brain goes bad. Tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar tidak menyukai televisi. Bagi saya, jika tak ada kerjaan, dan membaca menjadi kegiatan yang membosankan (hayo ngaku deh... pasti pernah kan merasa bosan baca buku), maka saya beralih ke televisi (selain menyewa DVD atau nonton bioskop). Tapi tentu, ada kalanya juga saya bosan nonton TV, seperti saya bosan pada buku-buku. Kesimpulan pribadi: saya pikir saya lumayan seimbang menempatkan diri antara televisi dan buku.

26 Februari 2009

"Meunasah" - Teater Nol

surau

Teater Nol dari Aceh mempersembahkan Meunasah
diangkat dari cerpen "Surau" karya Eka Kurniawan
di Studio Teater, TIM - Cikini, Jakarta
Senin, 2 Maret 2009
pukul 16:40 WIB
Sutradara: Jefry TS

Silakan datang dan nonton! ;)

Baca ulasan Meunasah di http://aamovi.wordpress.com

25 Februari 2009

Free Ponari!!!

[caption id="attachment_363" align="alignleft" width="285" caption="Aksi Ponari saat sedang mengobati pasien. Orang yang sakit di mana, Ponarinya sendiri fokusnya juga ke mana....?!?!"]Aksi Ponari saat sedang mengobati pasien. Orang yang sakit di mana, Ponarinya sendiri fokusnya juga ke mana....?!?![/caption]

Saya mendadak jadi pemirsa setia berita siang gara-gara heboh Ponari, si bocah dukun dari Jombang. Awalnya saya tidak terlalu mengikuti kisah Ponari. Tetapi karena semua orang, televisi dan koran membincangkannya, maka saya jadi ikut-ikutan.


Ponari (siswa kelas III SDN I Balongsari, Jombang, Jawa Timur) mengingatkan saya pada tokoh Micah dalam serial Heroes, seorang bocah yang punya kekuatan super bisa berkomunikasi dengan alat elektronik dan bisa memerintah. Ponari sendiri bisa punya kekuatan setelah dia disamber gledek, dan tiba-tiba ada batu di genggamannya yang konon bisa menyembuhkan. Ah, saya tidak perlu berpanjang-panjang menjelaskan siapa itu Ponari, semua orang Indonesia sudah tahu.


Yang saya heran adalah ketika mendengar kabar kalau Ponari sampai sakit gara-gara ingin menyembuhkan orang sakit (?!?!?!?!?!). Dan, ketika orang-orang diminta pulang karena Ponari ingin beristirahat, mereka semua bertahan. Kabar selanjutnya, ketika orangtua Ponari ingin menghentikan usaha pengobatan alternatif ala Ponari, justru kakak kandung Ponari marah dan menyerang ayahandanya, bahkan memukulinya. Kakak Ponari konon mengancam ingin menuntut hak asuh Ponari. Berita lain mengatakan, warga sekitar tempat tinggal Ponari ikut-ikutan marah karena tak ingin usaha pengobatan ala Ponari ditutup, sebab itu telah menjadi salah satu sumber penghasilan mereka. Bagaimana tidak, pasien yang datang bisa lebih dari 5000 orang, mau tak mau rumah warga sekitar disewakan untuk tempat berteduh, buka warung, sembari menunggu giliran air yang mereka bawa dicemplungi batu obat samber gledeknya Ponari.