12 Januari 2009

My Jakarta (Interview@JakartaGlobe)

[caption id="attachment_349" align="alignleft" width="500" caption="Photo by Dalih Sembiring"]Photo by Dalih Sembiring[/caption]

Ratih Kumala is a Jakartan, first by birth and then by marriage. Born in the city 28 years ago, the writer-cum-editor moved to Palembang, South Sumatra Province, when she was in the fifth grade. She lived there for three years before her family took her to Solo, Central Java Province, where she eventually married writer Eka Kurniawan in 2006. Just one week after the wedding, Ratih followed her husband to the Big Durian.

What was it like to return to your birthplace?

I was shocked to see how much Jakarta had changed, especially the traffic. Let’s just say I’m glad my job doesn’t start at 9 a.m.

08 Januari 2009

Tokyo di Penghujung Musim Gugur

[caption id="attachment_333" align="alignleft" width="300" caption="festival ketika musim gugur di kuil yang saya tidak tahu namanya"]festival ketika musim gugur di kuil yang saya tidak tahu namanya[/caption]

Ketika saya berkunjung ke Jepang tahun 2008 lalu, musim gugur hampir di penghujung, tetapi salju belum turun, jalan belum licin. Meski daun-daun yang kuning sebagian sudah berubah cokelat, tetapi angin di Tokyo cukup hangat untuk sekedar mengenakan pakaian dua lapis dan sebuah syal. Cukup nyaman untuk seorang yang biasa hidup di daerah tropis sepanjang tahun. Ornamen-ornamen natal terlihat berkerlap-kerlip di sepanjang jalan. Salah satu yang paling semarak adalah hiasan natal di depan Tokyo Tower. Lebih dari itu, 2008 juga ulangtahun Tokyo Tower ke-50. Tak heran jika di badan menara ini tertulis “50” dengan lampu gemerlap sehingga terlihat dari jauh. Meski mayoritas orang Jepang bukan beragama Kristiani, tetapi mereka suka sekali dengan segala perayaan. Tak hanya perayaan kepercayaan Shinto, tetapi juga hari Valentine, Hallowen, dan kini, menyambut Natal. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah kesukaan mereka pada benda-benda kecil (miniatur) dan tiruan. Mulai dari tiruan makanan, miniatur tokoh-tokoh anime, hingga miniatur kota Tokyo jaman dulu yang sangat detil digelar di lantai bawah Tokyo Tower.

Seorang teman pernah bercerita pada saya, sepulang dari Jepang, kerabat-kerabat Jepangnya membawakan sedikit kenang-kenangan yang –biarpun kecil- dibungkus lucu-lucu, disertai ucapan yang agak panjang. Kadang, ucapan itu juga menjelaskan kenapa ia memberikan hadiah tertentu untuk orang itu. Di mata saya, perayaan apapun bagi orang Jepang kelihatannya berkaitan dengan kesukaan mereka memberi hadiah yang mungil-mungil. Toko kertas (yang saya maksud di sini bukan sekedar toko kertas menjual HVS rim-riman seperti di Indonesia, tetapi juga meliputi kertas kado dengan warna dan pola unik) mungkin belum terlihat ramai, tapi jangan khawatir… tak lama lagi antriannya pasti akan panjang, dipenuhi orang-orang yang ingin mengemas hadiah Natal.

04 Januari 2009

2009

Selamat tahun baru 2009.
Semoga menjadi tahun yang keren yang tidak membosankan seperti tahun 2008.

11 Desember 2008

Lahir, Jodoh, Rejeki dan Matinya Sebuah Tulisan

[caption id="attachment_323" align="alignleft" width="400" caption="2nd hand book di belakang Tokyo University"]2nd hand book di belakang Tokyo University[/caption]

Matabaca, edisi Desember 2008

Lahir

Saya sering mendengar kalimat ini: “tulisanku adalah anak-anakku”. Beberapa penulis bahkan saya tahu menyebut buku-bukunya yang telah terbit sebagai ‘anak ke-1’, ‘anak ke-2’, dst. Sebutan ‘anak’ bagi sebuah tulisan, bagi saya terdengar sangat over-protektif, sebab itulah yang biasa dilakukan orang tua (dalam hal ini penulis) terhadap anak-anaknya. Sayangnya, justru sikap over-protektif inilah yang membuat seorang penulis (dan tulisannya) tidak berkembang.

Bagi saya, sangatlah penting memberi jarak antara saya (sebagai penulis) dengan tulisan saya. Ketika suatu kali seorang penulis berhasil menulis sebuah cerpen, misalnya, dan diujibacakan kepada penulis senior (yang berperan sebagai pembaca), dan ternyata pembaca tidak suka dengan hasil tulisannya (bahkan mungkin dibilang jelek), nah… di sinilah daya tahan banting dan semangat belajar seorang penulis diuji. Jika ia mempertimbangkan masukan orang lain, dan ‘tega’ untuk mengobrak-abrik tulisannya, di situlah kita tahu bahwa penulis ini akan memiliki nyawa panjang dalam profesi kepenulisannya. Tetapi jika sebaliknya, maka jangan khawatir, kita takkan mendengar namanya diperbincangkan di dunia sastra.

21 November 2008

Naik Kelas


Tanggal 20 November ini saya merayakan satu bulan saya bekerja di sebuah televisi swasta.  Tiba-tiba saya kagum pada diri saya sendiri... "kok bisa ya, bertahan?" Saya merasa keluar dari cangkang kenyamanan yang selama ini saya erami.


Pertama, saya membenci rutinitas.
Kedua, saya tidak terlalu cakap bergaul dengan orang lain.
Ketiga, saya merasa sulit bekerja dengan orang lain -terutama untuk hal-hal yang kreatif.


Jadi..., hebat! Saya bisa bertahan. Untuk kali ini, saya memberi salut untuk diri sendiri (suatu hal yang jarang saya lakukan, ngomong-ngomong hehehehe).


Sudah terlalu lama saya bekerja sendiri. Dulu sempat sih, kerja kantoran. Waktu itu saya masih meraba-raba apa yang saya inginkan. Jadi, saya cenderung mencoba segala hal. Ketika saya memutuskan untuk fokus menulis, saya menjadi lebih intim dengan diri saya sendiri ketimbang dengan orang lain (istilah kerennya "autis" ya?). Hal kreatif menurut saya patutnya dilakukan sendiri saja, sebab jika dilakukan dengan orang lain, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya capai.