19 Juli 2009

TEROKA: Optimisme dalam Prosa Betawi




[caption id="attachment_508" align="alignleft" width="142" caption="Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan"]Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan[/caption]


Kompas | Sabtu, 18 Juli 2009





Khazanah Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932- 2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya Terang Bulan Terang di Kali (1955, cetak ulang oleh Masup Jakarta, 2007). HB Jassin mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta.

Dialek lahir, tumbuh, dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya.

Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah ”cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah ”Pulang Pesta”, ”Pulang Siang”, atau ”Bang Senan Mau ke Mekah”, tak menjalin cerita sehingga yang terasa hanya ”suasana”.

[caption id="attachment_509" align="alignright" width="210" caption="Gambang Jakarte karya Firman Muntaco"]Gambang Jakarte karya Firman Muntaco[/caption]

Kalaupun ada cerpennya yang mengandung ”cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955), dikutip JJ Rizal (2007), mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.



Betawi masa kini

Apabila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt Majoindo (1896-1969), M Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM Ardan menimbulkan kesan: ”Ternyata orang Betawi seperti itu ya”, prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: ”Ternyata orang Betawi udah nggak kayak gitu ya...”.

28 Juni 2009

in memoriam: MICHAEL JOSEPH JACKSON (1958-2009)

michaeljackson



Goodbye, Moonwalker...
I'll see you in the moon.
You will always be in my heart.
Forever.
(to MJ, 08/29/1958-06/25/2009)

17 Juni 2009

Betawi versus Modernisasi

kronik-betawi



Oleh Muhammad Amin



Sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi


Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.

Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.

10 Juni 2009

Novel KRONIK BETAWI Bisa Pesan di Sini :)

kronik-betawi

KRONIK BETAWI
Jenis : Fiksi/Novel
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Putaka Utama, 2009
Tebal: 268 halaman

Buat teman-teman yang males ke toko buku, novel Kronik Betawi bisa dipesan langsung lewat saya :)

Novel Kronik Betawi bercerita tentang perjalanan kota Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi dan menepis berbagai persepsi miring terutama dari para pendatang. Kerelaan berbagi dengan kaum pendatang dalam mengais rejeki di ibukota ternyata tidak sebanding dengan dampaknya. Kota Jakarta bagai bukan milik penduduk aslinya lagi. Diceritakan, pembangunan yang sembarangan dan pertumbuhan permukiman bahkan telah menghilangkan asal-usul serta sejarah beberapa tempat.

Novel ini khas Betawi. Menghibur, menyindir, dan ceplas-ceplos. Sebuah pengingat, dokumentasi, dan apresiasi bagi nilai-nilai dan keluhuran budaya Betawi yang patut dibanggakan.

Harga bukunya Rp. 40.000,- dan saya tidak menarik biaya pengiriman, selama masih di Indonesia. Tapi buat yang di luar negeri, so sorry... kena biaya kirim ya (maklum, paketinnya mahal hehe).

Kalau tertarik, silakan transfer ke:
BCA No.Rek. 1530234017
atasnama Ratih Kumala.


Lalu, konfirmai lewat email ke ratihkumala@gmail.com, jangan lupa mencantumkan alamat pengiriman dan nomor telepon (just in case). Novel Kronik Betawi segera dikirim setelah pembayaran diterima.

07 Juni 2009

Betawi Jaman Doeloe



Kita semua tahu, Jakarta telah berubah sedemikian rupa. Tapi seperti apakah Jakarta (alias Betawi, alias Batavia) sebelum perubahan itu ada? Sebelum gedung menjulang tinggi, sebelum jalan padat merayap, sebelum orang berkerumun bak rayap. Saya menemukan video menarik di YouTube.com yang diposting oleh falkonungu. Selamat menonton video pendek ini. Semoga kita makin menghargai ibukota ini.

kronik-betawi
Saya sering berpikir seperti apa Jakarta jaman dulu. Menulis Kronik Betawi lebih banyak membuka memori tentang Jakarta ketika saya masih kecil. Betapa semua berbeda ketika beberapa waktu lalu saya kembali ke Pondok Gede, rumah di mana saya dibesarkan. Rumah Sakit Husni Tamrin bukan lagi sebuah klinik bersalin kecil seperti ketika adik saya yang paling kecil dilahirkan. tanah pekuburan di depan gang masuk menuju rumah saya kini telah diratakan dan konon tulang belulang manusia sudah dipindahkan dari situ. Jalan gang yang dulu besar, kini serasa pendek dan sempit, sedangkan kebun kecapi yang dulu luas dan penuh nyamuk telah disulap jadi rumah bertingkat.

Buku saya keempat, Kronik Betawi , bercerita tentang Jakarta dari jaman penjajahan Jepang (tahun '40-an) hingga awal era Reformasi (1998). Tiga tokoh yang merupakan anak daerah, yaitu Jaelani, Jarkasi dan Juleha (beserta garis keturunan keluarga mereka) tiba-tiba tergusur dan tergeser. Novel ini sengaja saya tulis dengan sangat ringan dan sederhana, jauh dari kesan "high-literature" yang jelimet. Ini adalah persembahan saya untuk kota kelahiran saya, Jakarta. Selamat membaca dan selamat makin mencintai Jakarta.