20 November 2009

Doel Hamid Asal Betawi


Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun '90-an


Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si Doel dalam novel anak berjudul Si Doel Anak Betawi. Ketika nama “Betawi” diumumkan menjadi “Djakarta”, judul buku ini diubah menjadi Si Doel, lalu diubah lagi menjadi Si Doel Anak Djakarta. Mengutip pendahuluan Aman Datuk Madjoindo di buku cetakan ke lima, “Karena nama ‘Betawi’ itu sudah hilang sama sekali dari perasaan, hanya nama ‘Djakarta’ djua jang terlintas dihati, maka saja tambahkan kembali nama itu, djadi Si Doel anak Djakarta.”

Saya mengenal Si Doel pertama kali dari film karya Sjuman Djaya, Si Doel Anak Modern yang dibintangi oleh Benyamin, Christine Hakim dan Achmad Albar. Si Doel Anak Modern adalah sekuel dari Si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya. Tapi entah mengapa, yang terus teringat jelas di benak saya adalah Si Doel Anak Modern. Kisahnya tentang Si Doel yang sudah dewasa, dan lebih fokus pada kehidupan cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan.

Selain film karya Sjuman Djaya, saya mengenal Si Doel lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan pada tahun ’90-an yang ketika itu lumayan populer. Rano Karno kembali membintangi menjadi Si Doel yang kini sudah lulus kuliah dan susah cari kerja. Benyamin tetap jadi babe Si Doel, yang kerjanya menjadi supir oplet. Beberapa karakter tambahan di versi sinetronnya membuat serial Si Doel jadi lebih hidup; Mandra, Mas Karyo (diperankan Basuki, alm.), Zaenab (diperankan Maudy Koesnadi), Sarah (diperankan Cornelia Agatha), dan beberapa tokoh lain.

04 November 2009

This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)

this_is_it_movie_poster_michael_jackson

Aneh sekali, ketika saya melihat berita Michael Jackson meninggal dunia, yang saya ingat justru lagu “American Pie”-nya Don MacLean. Itu lho, yang dinyanyikan ulang oleh Madonna (durasi +/- 4 menit). Hanya saja biduanita itu tidak menyanyikan versi panjang. Sejujurnya, saya lebih suka versi klasik Don MacLean (durasi +/- 8 menit). Satu kalimat yang terus terngiang di benak saya adalah“the day the music died” (hari ketika musik mati). Ya, bagi saya, Michael Jackson adalah musik, dan musik adalah Michael Jackson. Seperti halnya lirik dalam “American Pie”: Long, long time ago, I can still remember, how that music used to make me smile (bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat, bagaimana musik itu membuatku tersenyum). Dan dua baris lirik yang berbunyi pertanyaan berikut: Do you believe in rock 'n roll? /And can music save your mortal soul? (Apakah kau meyakini rock and roll?/Dan bahwa musik bisa menyelamatkan jiwamu?) Maka jawaban saya adalah, “yes I do believe it” (ya, aku percaya).

Bagi saya, berbicara tentang Michael Jackson berarti berbicara tentang masa ABG saya. Ketika baru saja menjadi siswi SMP pindahan, saya tertabrak bahasa daerah yang tak saya kuasai, kehidupan saya menjadi terisolasi dari teman-teman sekelas yang kesemuanya berbahasa Jawa. Saya menghabiskan masa ABG dengan membaca majalah Kawanku yang ketika itu formatnya masih berupa majalah musik (ya, saya tidak suka membaca majalah Gadis seperti cewek ABG kebanyakan). Majalah itu sempat menyajikan artikel bersambung biografi para pemusik dunia. Saya ingat, biografi New Kids on The Block pernah menjadi salah satunya. Tapi, saya sejak dahulu memang bukan penggemar boyband. Ketika Kawanku memuat artikel bersambung biografi Michael Jackson, saya mulai mengklipingnya. Beberapa edisi terlewat dikliping sebab majalah itu dipinjam seorang teman sekolah yang tak pernah mengembalikannya (dan saya sangat menyesal, sebab lupa siapa yang meminjam majalah itu).

Ketika saya masuk SMA (1995) dan mulai lancar berbahasa Jawa, saya terang-terangan bilang ke teman-teman bahwa saya menyukai musik-musik Michael Jackson. Sayangnya, teman-teman saya tidak terlalu menyukai dia. Mereka lebih menganggap MJ seorang freak karena operasi plastiknya yang berlebihan (juga karena tuduhan pelecehan seksualnya). Apa mau dikata, masa ABG saya memang tidak sejalan dengan masa puncak keemasan MJ. MJ praktis hampir seusia almarhum papah saya, jadi sebenarnya dia memang angkatan klasik (saya lebih suka menyebutnya demikian daripada kata ‘tua’). MJ sendiri menjadi benar-benar berada di puncak kariernya sebagai seorang extravaganstar pada periode 1978-1989. Sedang, pemusik yang sedang digandrungi ketika saya ABG adalah Bon Jovi, dan beberapa boyband semacam Backstreet Boys, Take That dan Caught In The Act (yang terakhir ini sudah benar-benar ditelan bumi). Saya ingat, beberapa teman bahkan mengejek karena saya beda sendiri: suka Michael Jackson (ah, saya bahkan masih ingat siapa-siapa saja yang mengejek saya waktu itu, hehehe). Tapi, bodo amat. Saya memang menyukai karya-karya MJ, so what? Saya bahkan banyak belajar Bahasa Inggris dari menerjemahkan lirik lagu-lagu MJ, sebab saya penasaran, dia itu sebenarnya nyanyi tentang apa sih? Jadi bisa dibilang, saya jatuh cinta pada musiknya dahulu, lalu liriknya, lalu kepribadian MJ yang dikabarkan sangat penyayang.

22 Oktober 2009

Managing Writers

Pertama-tama, sebetulnya saya ingin bikin judul bahasa Indonesia, "Memenej Penulis". Tapi kok menulis kata ‘memenej’ saja rasanya janggal, dan saya merasa lebih akrab dengan bahasa Inggrisnya. Jadi deh....

writers-block3

Saya telah menyebut diri saya sebagai penulis kira-kira delapan tahun, sejak 2002. Sejak itu pula, saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi. Alih bentuk tulisan, ya... toh semua penulis pasti akan selalu berproses (kecuali kalau ia berhenti menulis). Hingga sekarang, saya tidak bisa menghitung berapa tulisan gagal maupun berhasil yang sudah saya buat. Saya bukan seorang yang terorganisir dalam hal mengoleksi tulisan-tulisan yang telah terbit. Karier menulis saya dimulai dengan menulis novel, lalu saya mulai menulis cerpen (yang lebih banyak ditolak koran ketimbang yang dimuat), lalu saya menulis novel lagi, dan kini saya lebih banyak menulis skenario. Saya juga menulis tulisan pesanan selain menulis apapun yang saya ingin tulis. Kira-kira seperti itulah jalan karier menulis saya kalau benar-benar diringkas.

Ketika saya masuk ke dunia skenario, banyak hal baru yang saya temui, di antaranya … eng-ing-eng… ketemu selebriti! Yup... mulai dari artis jaman saya muda (serius, saya mengaku udah mulai tua) yang sekarang sudah jadi senior, artis sinetron yang baru-baru ini tengah naik daun, hingga artis-artis pendatang baru yang tenarnya masih tanggung. Mereka umumnya berusaha bersikap profesional dengan cara bergabung dalam manajemen artis (agen pemain sinetron/film/bintang iklan) tertentu. Manajemen artis mengurus segala keperluan sang artis, mulai dari dandanan, jadwal, bahkan kalau perlu demi membentuk imej publik yang oke, merekalah yang memberi "modal" seperti mobil, rumah, juga modal untuk operasi plastik sang artis! Too good to be true? Percayalah... saya sendiri masih percaya enggak percaya. Sebagai imbalannya, sang artis harus menyisihkan beberapa persen (tergantung perjanjian) dari penghasilannya untuk manajemen artis. Nah, bisa dibayangkan berapa penghasilan seorang artis jika namanya meroket, yang pasti harus cukup untuk menutupi modal yang telah diberikan manajemen artis padanya. Maka jangan heran, berbondong-bondong orang yang mendaftar ke manajemen artis demi menjadi selebriti. Beda artis, beda pula penulis. Jujur saja, seburuk-buruknya honor artis medioker, masih lebih buruk honor penulis yang tulisannya sering dimuat di koran/majalah.

Di luar negeri, di mana fungsi literary agent sudah eksis, segala urusan yang menyangkut kepenulisan (termasuk sebagai pembaca pertama, mencari penerbit, mempersiapkan peluncuran buku, memutuskan menerima/menolak sebuah wawancara/undangan acara sastra, serta tawar menawar harga jika rights buku dibeli oleh luar negeri) akan diurus mereka. Tugas penulis hanya menulis yang bagus agar tulisannya laku dijual. Sebagai imbalan (sama persis dengan manajemen artis), sekian persen dari penghasilan penulis akan dipotong sebagai honor literary agent. Singkatnya, literary agent juga berfungsi sebagai manajer penulis.

05 Oktober 2009

Tiga Bayangan, novel grafis

three-shadows_2 Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu 'membaca' siapa ketiga bayangan itu. Mistress Pike hanya bisa bilang, "Jangan coba melawan 'bayangan' ini... tidak ada gunanya. Nikamti saja setiap saat bersama Joachim, selama ia masih bersamamu." Demikianlah, akhirnya Louis memutuskan untuk membawa Joachim jauh-jauh, pergi dari desa itu, terus berlari menghindar dari ketiga bayangan itu. Petualangan Louis dan Joachim pun dimulai, mereka ditipu, naik kapal, kena badai,  terdampar, lalu diselamatkan lelaki tua aneh yang berjanji bisa melindungi Joachim apabila Louis menyerahkan hidupnya sebagai imbalan. Lelaki tua itu lalu mengubah Joachim jadi begitu kecil (atau Louis yang jadi begitu besar?!) sehingga bocah itu masuk ke dalam telapak tangan Louis dan terlindungi selamanya dari tiga bayangan yang mengicar.

Harus saya katakan, Tiga Bayangan (Gramedia Pustaka Utama) tidak menyuguhkan happy ending (ups... sory buat yang belum baca). Cerita ini diakhiri dengan kesimpulan: hidup terus berjalan, sesakit apapun masa lalumu. Louis dan Lise punya anak lagi, yang mengggantikan Joachim, meski mereka tak pernah bisa melupakan putranya itu.

19 Juli 2009

TEROKA: Optimisme dalam Prosa Betawi




[caption id="attachment_508" align="alignleft" width="142" caption="Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan"]Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan[/caption]


Kompas | Sabtu, 18 Juli 2009





Khazanah Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932- 2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya Terang Bulan Terang di Kali (1955, cetak ulang oleh Masup Jakarta, 2007). HB Jassin mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta.

Dialek lahir, tumbuh, dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya.

Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah ”cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah ”Pulang Pesta”, ”Pulang Siang”, atau ”Bang Senan Mau ke Mekah”, tak menjalin cerita sehingga yang terasa hanya ”suasana”.

[caption id="attachment_509" align="alignright" width="210" caption="Gambang Jakarte karya Firman Muntaco"]Gambang Jakarte karya Firman Muntaco[/caption]

Kalaupun ada cerpennya yang mengandung ”cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955), dikutip JJ Rizal (2007), mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.



Betawi masa kini

Apabila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt Majoindo (1896-1969), M Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM Ardan menimbulkan kesan: ”Ternyata orang Betawi seperti itu ya”, prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: ”Ternyata orang Betawi udah nggak kayak gitu ya...”.

28 Juni 2009

in memoriam: MICHAEL JOSEPH JACKSON (1958-2009)

michaeljackson



Goodbye, Moonwalker...
I'll see you in the moon.
You will always be in my heart.
Forever.
(to MJ, 08/29/1958-06/25/2009)

17 Juni 2009

Betawi versus Modernisasi

kronik-betawi



Oleh Muhammad Amin



Sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi


Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.

Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.

10 Juni 2009

Novel KRONIK BETAWI Bisa Pesan di Sini :)

kronik-betawi

KRONIK BETAWI
Jenis : Fiksi/Novel
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Putaka Utama, 2009
Tebal: 268 halaman

Buat teman-teman yang males ke toko buku, novel Kronik Betawi bisa dipesan langsung lewat saya :)

Novel Kronik Betawi bercerita tentang perjalanan kota Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi dan menepis berbagai persepsi miring terutama dari para pendatang. Kerelaan berbagi dengan kaum pendatang dalam mengais rejeki di ibukota ternyata tidak sebanding dengan dampaknya. Kota Jakarta bagai bukan milik penduduk aslinya lagi. Diceritakan, pembangunan yang sembarangan dan pertumbuhan permukiman bahkan telah menghilangkan asal-usul serta sejarah beberapa tempat.

Novel ini khas Betawi. Menghibur, menyindir, dan ceplas-ceplos. Sebuah pengingat, dokumentasi, dan apresiasi bagi nilai-nilai dan keluhuran budaya Betawi yang patut dibanggakan.

Harga bukunya Rp. 40.000,- dan saya tidak menarik biaya pengiriman, selama masih di Indonesia. Tapi buat yang di luar negeri, so sorry... kena biaya kirim ya (maklum, paketinnya mahal hehe).

Kalau tertarik, silakan transfer ke:
BCA No.Rek. 1530234017
atasnama Ratih Kumala.


Lalu, konfirmai lewat email ke ratihkumala@gmail.com, jangan lupa mencantumkan alamat pengiriman dan nomor telepon (just in case). Novel Kronik Betawi segera dikirim setelah pembayaran diterima.

07 Juni 2009

Betawi Jaman Doeloe



Kita semua tahu, Jakarta telah berubah sedemikian rupa. Tapi seperti apakah Jakarta (alias Betawi, alias Batavia) sebelum perubahan itu ada? Sebelum gedung menjulang tinggi, sebelum jalan padat merayap, sebelum orang berkerumun bak rayap. Saya menemukan video menarik di YouTube.com yang diposting oleh falkonungu. Selamat menonton video pendek ini. Semoga kita makin menghargai ibukota ini.

kronik-betawi
Saya sering berpikir seperti apa Jakarta jaman dulu. Menulis Kronik Betawi lebih banyak membuka memori tentang Jakarta ketika saya masih kecil. Betapa semua berbeda ketika beberapa waktu lalu saya kembali ke Pondok Gede, rumah di mana saya dibesarkan. Rumah Sakit Husni Tamrin bukan lagi sebuah klinik bersalin kecil seperti ketika adik saya yang paling kecil dilahirkan. tanah pekuburan di depan gang masuk menuju rumah saya kini telah diratakan dan konon tulang belulang manusia sudah dipindahkan dari situ. Jalan gang yang dulu besar, kini serasa pendek dan sempit, sedangkan kebun kecapi yang dulu luas dan penuh nyamuk telah disulap jadi rumah bertingkat.

Buku saya keempat, Kronik Betawi , bercerita tentang Jakarta dari jaman penjajahan Jepang (tahun '40-an) hingga awal era Reformasi (1998). Tiga tokoh yang merupakan anak daerah, yaitu Jaelani, Jarkasi dan Juleha (beserta garis keturunan keluarga mereka) tiba-tiba tergusur dan tergeser. Novel ini sengaja saya tulis dengan sangat ringan dan sederhana, jauh dari kesan "high-literature" yang jelimet. Ini adalah persembahan saya untuk kota kelahiran saya, Jakarta. Selamat membaca dan selamat makin mencintai Jakarta.

04 Juni 2009

"D" Day

birthday_graphics_24



Happy birthday to my best friend: ME
Here I give you the best gift ever: YOUR 4th BOOK
May you never forget who you are, and where you belong
And always believe, even when destiny calls you not to have a long-life,
you have done your best for yourself and people around you....

23 Mei 2009

Kronik Betawi, sebuah novel

[caption id="attachment_399" align="aligncenter" width="300" caption="Kronik Betawi"]Kronik Betawi[/caption]
"Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku."

Kronik Betawi terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima POD sebagai contoh fisik buku yang akan terbit dari Mbak Mirna, editor saya di GPU.

Bagi saya, novel ini menguak memori masa kecil. Saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Pondok Gede. Saya tinggal di lingkungan yang kental dengan budaya Betawi, di mana Bokir, Mandra (yang waktu itu masih miskin) sehari-hari bertemu dengan saya. Saya juga kerap menonton cucu-cucu Pak Haji Bokir berlatih di sanggar mereka saat malam minggu tiba.

Ketika novel ini terbit sebagai cerber di Republika pada tanggal 8 Agustus 2008, tengah malam hari tanggal 9 Agustus 2009, papah saya dipanggil Yang Kuasa. Ia belum sempat melihat karya saya yang teranyar. Untuk itulah novel ini saya persembahkan untuk Papah.

11 Mei 2009

Shakespeare dalam Manga

yhst-51816236815316_2048_41943808 Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat Romeo and Juliette yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu lumayan membekas di benak saya. Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu kalau film itu sejatinya diangkat dari karya seseorang yang bernama William Shakespeare. Beberapa tahun kemudian (lagi) saya juga baru tahu kalau karya Shakespeare itu bukan novel, novelet atau cerpen, melainkan naskah drama teater. Kesimpulannya: saya lumayan lambat mengenal siapa itu Shakespeare, hehehe....

Ketika kuliah di jurusan Sastra Inggris, agaknya rada memalukan kalau tidak mengenal karya-karya Shakespeare. Terlebih lagi karena dosen-dosen saya kerap menyebut-nyebut namanya. Saya sempat ke perpustakaan kampus dan membaca buku William Shakespeare, dan hasilnya ... (sejujurnya) saya bingung! Bahasa yang digunakan masih jadul (atau 'klasik', sebutan yang lebih elegan). Bahasa Inggris klasik tidak pernah benar-benar diajarkan di kampus saya. Untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris klasik, saya waktu itu bolak-balik membuka kamus, lumayan melelahkan. Mungkin ini adalah pengakuan dosa paling blak-blakan yang pernah saya lakukan: sewaktu jadi mahasiswa Sastra Inggris, saya lebih suka menonton film yang diangkat dari karya William Shakespeare ketimbang membacanya (semoga Tuhan mengampuni saya). Kisah-kisah yang ditulis Shakespeare bagi saya lebih mudah dipahami dengan menonton televisi. Satu-satunya kalimat yang paling saya ingat dari Shakespeare adalah "what's in a name?" (apalah arti sebuah nama?) Ketika Juliette ngomong sendiri di jendela kamarnya, sementara Romeo nguping setelah tresspassing dengan cara lompat pagar. Lain itu, tidak. Alhasil dari menonton itu adalah: saya mengetahui jalan cerita karya-karya Shakespeare, tapi tidak menghapal kalimat per kalimat -ini adalah hal yang lumayan memalukan sebagai seorang lulusan Sastra Inggris-. Mungkin saya satu-satunya orang yang mengakui hal (memalukan) ini; tapi saya tahu tidak sedikit mahasiswa Sastra Inggris (di Indonesia) yang melakukan hal sama seperti saya. Hanya saja mereka masih punya harga diri untuk tidak mengakuinya hehehehe.

26 April 2009

“Baju Seragam Anak Pemulung” : Sinetron Lepas Terpuji dari Forum Film Bandung 2009

seragamsd

Tanggal 24 April 2009 malam, sebuah SMS menggembirakan datang dari Executive Produser saya, salah satu FTV program Bioskop Indonesia menang sebagai kategori Sinetron Lepas Terpuji dari Forum Film Bandung 2009. FTV ini berjudul “Baju Seragam Anak Pemulung”, berkisah tentang dua anak pemulung, Evi dan Akil, yang ingin terus sekolah.

Evi dan Akil -dua tokoh dalam FTV ini- adalah kakak beradik yang kurang beruntung. Mereka sebenarnya diajar oleh kakeknya, hingga kakek mereka punya uang yang cukup untuk menyekolahkan keduanya. Betapa bangganya sang kakek, ketika melihat kedua cucunya berseragam sekolah merah-putih dengan dasi. Sayangnya, ketika pulang, kakek yang sedang mulung ditabrak truk dan meninggal. Sejak itu, Evi dan Akil tinggal bersama Bibi dan Otoy, sepupu mereka yang gendut, super songong dan hobi makan. Di rumah bibinya, Evi dan Akil masih tetap berusaha untuk mandiri. Bagaimanapun, bibi mereka bukanlah orang kaya, hanya seorang janda yang berjualan pecel untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

04 April 2009

belajar ikhlas

Sedang belajar ikhlas lagi....
Semua kembali pada-Nya.
Pergi satu orang lagi, berduka lagi.
Selamat jalan sepupuku tersayang, sakitmu telah diangkat
(in memoriam: Mbak Ida)
Dan hidup pun berjalan lagi....

01 April 2009

Berguru pada Televisi

television-paintingTiba-tiba saya teringat pada tokoh Kenneth di serial 30 Rock. Dia adalah pegawai rendahan (kalau tidak salah posisinya Pembantu Umum) yang bekerja di sebuah televisi swasta. Kenneth yang karakternya bego-bego lugu adalah seorang yang sangat mencintai pekerjaannya. Dia bekerja dengan passion, dia bangga menjadi bagian dari sebuah televisi, apapun posisinya.

Diam-diam, saya mencoba memahami kenapa 30 Rock membuat tokoh Kenneth dalam serialnya. Dia berasal dari kampung, anak udik yang kaget dengan gemerlapnya New York City. Matanya berbinar-binar jika melihat artis mampir di NBC, tempatnya bekerja. Dia anak kampung yang hampir seluruh hidupnya bergelut dengan peternakan, kini bisa menjadi bagian televisi.

Selama hampir enam bulan saya sudah benar-benar nyemplung di telvisi, selama itu pula menjadi pembuka mata saya akan dunia televisi. Saya, pernah seperti orang-orang yang tidak setuju dengan "pembodohan televisi", sempat menganggap televisi adalah "sampah", dan percaya bahwa too much TV makes your brain goes bad. Tapi sebenarnya saya tidak pernah benar-benar tidak menyukai televisi. Bagi saya, jika tak ada kerjaan, dan membaca menjadi kegiatan yang membosankan (hayo ngaku deh... pasti pernah kan merasa bosan baca buku), maka saya beralih ke televisi (selain menyewa DVD atau nonton bioskop). Tapi tentu, ada kalanya juga saya bosan nonton TV, seperti saya bosan pada buku-buku. Kesimpulan pribadi: saya pikir saya lumayan seimbang menempatkan diri antara televisi dan buku.

26 Februari 2009

"Meunasah" - Teater Nol

surau

Teater Nol dari Aceh mempersembahkan Meunasah
diangkat dari cerpen "Surau" karya Eka Kurniawan
di Studio Teater, TIM - Cikini, Jakarta
Senin, 2 Maret 2009
pukul 16:40 WIB
Sutradara: Jefry TS

Silakan datang dan nonton! ;)

Baca ulasan Meunasah di http://aamovi.wordpress.com

25 Februari 2009

Free Ponari!!!

[caption id="attachment_363" align="alignleft" width="285" caption="Aksi Ponari saat sedang mengobati pasien. Orang yang sakit di mana, Ponarinya sendiri fokusnya juga ke mana....?!?!"]Aksi Ponari saat sedang mengobati pasien. Orang yang sakit di mana, Ponarinya sendiri fokusnya juga ke mana....?!?![/caption]

Saya mendadak jadi pemirsa setia berita siang gara-gara heboh Ponari, si bocah dukun dari Jombang. Awalnya saya tidak terlalu mengikuti kisah Ponari. Tetapi karena semua orang, televisi dan koran membincangkannya, maka saya jadi ikut-ikutan.


Ponari (siswa kelas III SDN I Balongsari, Jombang, Jawa Timur) mengingatkan saya pada tokoh Micah dalam serial Heroes, seorang bocah yang punya kekuatan super bisa berkomunikasi dengan alat elektronik dan bisa memerintah. Ponari sendiri bisa punya kekuatan setelah dia disamber gledek, dan tiba-tiba ada batu di genggamannya yang konon bisa menyembuhkan. Ah, saya tidak perlu berpanjang-panjang menjelaskan siapa itu Ponari, semua orang Indonesia sudah tahu.


Yang saya heran adalah ketika mendengar kabar kalau Ponari sampai sakit gara-gara ingin menyembuhkan orang sakit (?!?!?!?!?!). Dan, ketika orang-orang diminta pulang karena Ponari ingin beristirahat, mereka semua bertahan. Kabar selanjutnya, ketika orangtua Ponari ingin menghentikan usaha pengobatan alternatif ala Ponari, justru kakak kandung Ponari marah dan menyerang ayahandanya, bahkan memukulinya. Kakak Ponari konon mengancam ingin menuntut hak asuh Ponari. Berita lain mengatakan, warga sekitar tempat tinggal Ponari ikut-ikutan marah karena tak ingin usaha pengobatan ala Ponari ditutup, sebab itu telah menjadi salah satu sumber penghasilan mereka. Bagaimana tidak, pasien yang datang bisa lebih dari 5000 orang, mau tak mau rumah warga sekitar disewakan untuk tempat berteduh, buka warung, sembari menunggu giliran air yang mereka bawa dicemplungi batu obat samber gledeknya Ponari.

09 Februari 2009

Slumdog Millionaire: Merayakan Kemenangan

[caption id="attachment_355" align="alignleft" width="196" caption="Novel Q and A, karya Vikas Swarup"]Novel <em>Q and A</em>, karya Vikas Swarup[/caption]

Baru-baru ini saya menonton film Slumdog Millionaire, film bersetting Mumbay, India, yang diangkat dari novel Q and A karya Vikas Swarup. Ada sesuatu yang segar dari film ini, yang berbeda dari film-film Bollywood lainnya. Saya termasuk orang yang akrab dengan film selain Hollywood. Saya menyukai film-film Korea, Jepang, juga India. Meskipun menari dan menyanyi sudah merupakan bagian penting dari film-film India, tapi sejujurnya, saya masih tidak terlalu akrab dan nyaman dengan tari-nyanyi dalam film Bollywood.

Slumdog Millionaire bercerita tentang Jamal, seorang anak jalanan yang menang dalam acara kuis 'Who Wants To Be A Millionaire' versi India. Uniknya, Jamal menang bukan karena dia terpelajar, tetapi karena setiap pertanyaan yang diajukan selalu mengingatkannya pada sejadian di masa lalu. Jadilah film ini kerap flashback mulai dari Jamal masih kecil, ABG, sampai dewasa. Uniknya lagi, Jamal ikut kuis ini bukan karena ingin jadi milyuner, tetapi karena ia ingin mencari kekasihnya Latika. Setiap flashback yang ada, selalu merujuk pada kejadian ketika dia mencari Latika. Dia berharap, dengan mengikuti kuis ini, Latika akan melihatnya dan akan tahu di mana dirinya. Ending cerita memuaskan penonton (dan pembaca), happy ending, tentu saja. Jamal bertemu dengan Latika, juga memenangkan kuis hadiah utama. Seorang anak jalanan yang tiba-tiba kaya raya gara-gara ikut kuis.

12 Januari 2009

My Jakarta (Interview@JakartaGlobe)

[caption id="attachment_349" align="alignleft" width="500" caption="Photo by Dalih Sembiring"]Photo by Dalih Sembiring[/caption]

Ratih Kumala is a Jakartan, first by birth and then by marriage. Born in the city 28 years ago, the writer-cum-editor moved to Palembang, South Sumatra Province, when she was in the fifth grade. She lived there for three years before her family took her to Solo, Central Java Province, where she eventually married writer Eka Kurniawan in 2006. Just one week after the wedding, Ratih followed her husband to the Big Durian.

What was it like to return to your birthplace?

I was shocked to see how much Jakarta had changed, especially the traffic. Let’s just say I’m glad my job doesn’t start at 9 a.m.

08 Januari 2009

Tokyo di Penghujung Musim Gugur

[caption id="attachment_333" align="alignleft" width="300" caption="festival ketika musim gugur di kuil yang saya tidak tahu namanya"]festival ketika musim gugur di kuil yang saya tidak tahu namanya[/caption]

Ketika saya berkunjung ke Jepang tahun 2008 lalu, musim gugur hampir di penghujung, tetapi salju belum turun, jalan belum licin. Meski daun-daun yang kuning sebagian sudah berubah cokelat, tetapi angin di Tokyo cukup hangat untuk sekedar mengenakan pakaian dua lapis dan sebuah syal. Cukup nyaman untuk seorang yang biasa hidup di daerah tropis sepanjang tahun. Ornamen-ornamen natal terlihat berkerlap-kerlip di sepanjang jalan. Salah satu yang paling semarak adalah hiasan natal di depan Tokyo Tower. Lebih dari itu, 2008 juga ulangtahun Tokyo Tower ke-50. Tak heran jika di badan menara ini tertulis “50” dengan lampu gemerlap sehingga terlihat dari jauh. Meski mayoritas orang Jepang bukan beragama Kristiani, tetapi mereka suka sekali dengan segala perayaan. Tak hanya perayaan kepercayaan Shinto, tetapi juga hari Valentine, Hallowen, dan kini, menyambut Natal. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah kesukaan mereka pada benda-benda kecil (miniatur) dan tiruan. Mulai dari tiruan makanan, miniatur tokoh-tokoh anime, hingga miniatur kota Tokyo jaman dulu yang sangat detil digelar di lantai bawah Tokyo Tower.

Seorang teman pernah bercerita pada saya, sepulang dari Jepang, kerabat-kerabat Jepangnya membawakan sedikit kenang-kenangan yang –biarpun kecil- dibungkus lucu-lucu, disertai ucapan yang agak panjang. Kadang, ucapan itu juga menjelaskan kenapa ia memberikan hadiah tertentu untuk orang itu. Di mata saya, perayaan apapun bagi orang Jepang kelihatannya berkaitan dengan kesukaan mereka memberi hadiah yang mungil-mungil. Toko kertas (yang saya maksud di sini bukan sekedar toko kertas menjual HVS rim-riman seperti di Indonesia, tetapi juga meliputi kertas kado dengan warna dan pola unik) mungkin belum terlihat ramai, tapi jangan khawatir… tak lama lagi antriannya pasti akan panjang, dipenuhi orang-orang yang ingin mengemas hadiah Natal.

04 Januari 2009

2009

Selamat tahun baru 2009.
Semoga menjadi tahun yang keren yang tidak membosankan seperti tahun 2008.