Si Doel Anak Sekolahan, sinetron yang cukup populer di tahun '90-an
Tak banyak orang tahu bahwa salah satu tokoh paling populer asal Betawi ini ternyata bukan diciptakan oleh sastrawan Jakarta, dialah Doel Hamid, atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Si Doel. Pada tahun 1951, Aman Datuk Madjoindo, sastrawan asal Sumatera Barat menciptakan tokoh Si Doel dalam novel anak berjudul Si Doel Anak Betawi. Ketika nama “Betawi” diumumkan menjadi “Djakarta”, judul buku ini diubah menjadi Si Doel, lalu diubah lagi menjadi Si Doel Anak Djakarta. Mengutip pendahuluan Aman Datuk Madjoindo di buku cetakan ke lima, “Karena nama ‘Betawi’ itu sudah hilang sama sekali dari perasaan, hanya nama ‘Djakarta’ djua jang terlintas dihati, maka saja tambahkan kembali nama itu, djadi Si Doel anak Djakarta.”
Saya mengenal Si Doel pertama kali dari film karya Sjuman Djaya, Si Doel Anak Modern yang dibintangi oleh Benyamin, Christine Hakim dan Achmad Albar. Si Doel Anak Modern adalah sekuel dari Si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno kecil, dan Benyamin sebagai babenya. Tapi entah mengapa, yang terus teringat jelas di benak saya adalah Si Doel Anak Modern. Kisahnya tentang Si Doel yang sudah dewasa, dan lebih fokus pada kehidupan cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan.
Selain film karya Sjuman Djaya, saya mengenal Si Doel lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan pada tahun ’90-an yang ketika itu lumayan populer. Rano Karno kembali membintangi menjadi Si Doel yang kini sudah lulus kuliah dan susah cari kerja. Benyamin tetap jadi babe Si Doel, yang kerjanya menjadi supir oplet. Beberapa karakter tambahan di versi sinetronnya membuat serial Si Doel jadi lebih hidup; Mandra, Mas Karyo (diperankan Basuki, alm.), Zaenab (diperankan Maudy Koesnadi), Sarah (diperankan Cornelia Agatha), dan beberapa tokoh lain.