28 Januari 2010

Abdullah Harahap, Master of Horror Fiction

Ketika mendengar nama Abdullah Harahap (AH), yang saya ingat adalah kover buku beliau yang provokatif. Biasanya ada gambar makhluk berwajah seram, dan seorang pemuda tampan, serta gadis cantik nan molek. Saya menemukan buku-buku AH ketika kecil, dijual eceran di antara koran-koran dan majalah, serta buku TTS. Saya besar di keluarga Islam, maka ketika ibu saya tahu saya melihat buku-buku bergambar seronok, saya dilarang membacanya. Pada suatu saat saya berkesempatan membacanya, saya tidak menyelesaikan buku AH. Sebabnya? Saya ini penakut!

Ada yang aneh pada buku-buku AH. Bagi saya (dan mungkin untuk kebanyakan orang), buku-buku AH tergolong "guilty pleasure". Mau dibaca gengsi, enggak dibaca penasaran. Dari sekian banyak buku AH yang saya mulai baca, kesemuanya tidak ada yang saya selesaikan. Setiap kali setannya mau muncul, saya menutup buku itu. Meskipun saya bercita-cita menyelesaikannya, toh saya tidak pernah melanjutkan membaca.