Ada yang aneh pada buku-buku AH. Bagi saya (dan mungkin untuk kebanyakan orang), buku-buku AH tergolong "guilty pleasure". Mau dibaca gengsi, enggak dibaca penasaran. Dari sekian banyak buku AH yang saya mulai baca, kesemuanya tidak ada yang saya selesaikan. Setiap kali setannya mau muncul, saya menutup buku itu. Meskipun saya bercita-cita menyelesaikannya, toh saya tidak pernah melanjutkan membaca.
Akhirnya saya berkesempatan bertemu AH, via seorang teman. Setelah sebelumnya saya mengikuti perkembangan tiga penulis (Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad) mengerjakan antologi cerpen horror, tribut untuk Abdullah Harahap. Di usia yang memasuki kepala 7, beliau masih terlihat sehat dan bersemangat. Ternyata, meskipun tak lagi mengasilkan buku, beliau masih menulis skenario untuk FTV. Selama ini, beliau menetap di Bandung. Meski tak banyak waktu untuk mengobrol, tetapi bertemu beliau saja sudah membuat saya berasa beruntung: seorang legenda di depan mata saya.
Kumpulan Budak Setan, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap --- balas dendam, seks, pembunuhan -- serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian.
Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku.
Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar:
“Ina Mia?”
("Riwayat Kesendirian,” Eka Kurniawan)
Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan – lebih mirip terigu menggumpal tersapu air – dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.
(“Goyang Penasaran,” Intan Paramaditha)
“Duluan mana ayam atau telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi.
Darah di mana-mana.
(“Hidung Iblis,” Ugoran Prasad)
Dalam Kumpulan Budak Setan, sembari mengolah konvensi genre horor, kami juga memandang horor sebagai moda yang dipertukarkan di berbagai ranah, dari panggung politik hingga kehidupan sehari-hari. Horor tak melulu soal hantu, tetapi ruang liyan yang menciptakan kemungkinan runtuhnya “realitas” yang seharusnya, tatanan yang kita percaya. Horor beroperasi tak hanya dalam cerita setan, tapi juga dalam retorika politik (misalnya saja penggunaan moda horor dalam film sejarah Pengkhianatan G30S/PKI, atau, di tataran global, narasi seputar peristiwa 9/11) maupun hubungan personal dan sosial yang sepintas lalu tak berbahaya.
(Kata pengantar dari para budak setan)
Kumpulan Budak Setan akan diluncurkan di Salihara, 17 Februari 2010. Detil menyusul.
6 komentar:
cuma pernah membaca karya beliau sekali waktu kecil :D gak membaca lagi selain karena dilarang mom (yang ikutan baca), juga karena merasa ngeri dan jorok (dalam artian jorok yang sebenarnya). masak berhubungan seks dengan suaminya yang dah jadi mayat hidup? ewww....
tapi sekarang saya sudah besar (hah? LOL) dan tidak sabar menunggu buku Eka & Ugo & Intan Februari ini :)
lam kenal Mba Ratih, tulisannya bagus-bagus, menambah pengetahuan saya pribadi. Thanks Mba.
Saya pernah membaca karya Abdullah Harahap. emosinya deh. salam kenal ya mbak ratih. saya suka cerpen-cerpennya mbak ratih. oh ya mbak, saya juga menulis naskah buku "40 Sastrawan Perempuan Indonesia Masa Kini". salah satunya saya muat profil mbak Ratih. doakan moga diterima sama penerbitnya ya mbak. trims.
Salam kenal mbak. semoga suatu saat nanti saya bisa seperti mbak...
mbak, punya karya Mpu Wesi Geni atau sejenisnya?
cara bertutur cerita beliau : ... padat, tendensius cenderung kasar, tapi juga genit bersastra ....;)
salam kenal.
Posting Komentar