22 Oktober 2009

Managing Writers

Pertama-tama, sebetulnya saya ingin bikin judul bahasa Indonesia, "Memenej Penulis". Tapi kok menulis kata ‘memenej’ saja rasanya janggal, dan saya merasa lebih akrab dengan bahasa Inggrisnya. Jadi deh....

writers-block3

Saya telah menyebut diri saya sebagai penulis kira-kira delapan tahun, sejak 2002. Sejak itu pula, saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi. Alih bentuk tulisan, ya... toh semua penulis pasti akan selalu berproses (kecuali kalau ia berhenti menulis). Hingga sekarang, saya tidak bisa menghitung berapa tulisan gagal maupun berhasil yang sudah saya buat. Saya bukan seorang yang terorganisir dalam hal mengoleksi tulisan-tulisan yang telah terbit. Karier menulis saya dimulai dengan menulis novel, lalu saya mulai menulis cerpen (yang lebih banyak ditolak koran ketimbang yang dimuat), lalu saya menulis novel lagi, dan kini saya lebih banyak menulis skenario. Saya juga menulis tulisan pesanan selain menulis apapun yang saya ingin tulis. Kira-kira seperti itulah jalan karier menulis saya kalau benar-benar diringkas.

Ketika saya masuk ke dunia skenario, banyak hal baru yang saya temui, di antaranya … eng-ing-eng… ketemu selebriti! Yup... mulai dari artis jaman saya muda (serius, saya mengaku udah mulai tua) yang sekarang sudah jadi senior, artis sinetron yang baru-baru ini tengah naik daun, hingga artis-artis pendatang baru yang tenarnya masih tanggung. Mereka umumnya berusaha bersikap profesional dengan cara bergabung dalam manajemen artis (agen pemain sinetron/film/bintang iklan) tertentu. Manajemen artis mengurus segala keperluan sang artis, mulai dari dandanan, jadwal, bahkan kalau perlu demi membentuk imej publik yang oke, merekalah yang memberi "modal" seperti mobil, rumah, juga modal untuk operasi plastik sang artis! Too good to be true? Percayalah... saya sendiri masih percaya enggak percaya. Sebagai imbalannya, sang artis harus menyisihkan beberapa persen (tergantung perjanjian) dari penghasilannya untuk manajemen artis. Nah, bisa dibayangkan berapa penghasilan seorang artis jika namanya meroket, yang pasti harus cukup untuk menutupi modal yang telah diberikan manajemen artis padanya. Maka jangan heran, berbondong-bondong orang yang mendaftar ke manajemen artis demi menjadi selebriti. Beda artis, beda pula penulis. Jujur saja, seburuk-buruknya honor artis medioker, masih lebih buruk honor penulis yang tulisannya sering dimuat di koran/majalah.

Di luar negeri, di mana fungsi literary agent sudah eksis, segala urusan yang menyangkut kepenulisan (termasuk sebagai pembaca pertama, mencari penerbit, mempersiapkan peluncuran buku, memutuskan menerima/menolak sebuah wawancara/undangan acara sastra, serta tawar menawar harga jika rights buku dibeli oleh luar negeri) akan diurus mereka. Tugas penulis hanya menulis yang bagus agar tulisannya laku dijual. Sebagai imbalan (sama persis dengan manajemen artis), sekian persen dari penghasilan penulis akan dipotong sebagai honor literary agent. Singkatnya, literary agent juga berfungsi sebagai manajer penulis.

05 Oktober 2009

Tiga Bayangan, novel grafis

three-shadows_2 Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu 'membaca' siapa ketiga bayangan itu. Mistress Pike hanya bisa bilang, "Jangan coba melawan 'bayangan' ini... tidak ada gunanya. Nikamti saja setiap saat bersama Joachim, selama ia masih bersamamu." Demikianlah, akhirnya Louis memutuskan untuk membawa Joachim jauh-jauh, pergi dari desa itu, terus berlari menghindar dari ketiga bayangan itu. Petualangan Louis dan Joachim pun dimulai, mereka ditipu, naik kapal, kena badai,  terdampar, lalu diselamatkan lelaki tua aneh yang berjanji bisa melindungi Joachim apabila Louis menyerahkan hidupnya sebagai imbalan. Lelaki tua itu lalu mengubah Joachim jadi begitu kecil (atau Louis yang jadi begitu besar?!) sehingga bocah itu masuk ke dalam telapak tangan Louis dan terlindungi selamanya dari tiga bayangan yang mengicar.

Harus saya katakan, Tiga Bayangan (Gramedia Pustaka Utama) tidak menyuguhkan happy ending (ups... sory buat yang belum baca). Cerita ini diakhiri dengan kesimpulan: hidup terus berjalan, sesakit apapun masa lalumu. Louis dan Lise punya anak lagi, yang mengggantikan Joachim, meski mereka tak pernah bisa melupakan putranya itu.

19 Juli 2009

TEROKA: Optimisme dalam Prosa Betawi




[caption id="attachment_508" align="alignleft" width="142" caption="Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan"]Terang Bulan Terang di Kali karya SM Ardan[/caption]


Kompas | Sabtu, 18 Juli 2009





Khazanah Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932- 2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya Terang Bulan Terang di Kali (1955, cetak ulang oleh Masup Jakarta, 2007). HB Jassin mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta.

Dialek lahir, tumbuh, dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya.

Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah ”cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah ”Pulang Pesta”, ”Pulang Siang”, atau ”Bang Senan Mau ke Mekah”, tak menjalin cerita sehingga yang terasa hanya ”suasana”.

[caption id="attachment_509" align="alignright" width="210" caption="Gambang Jakarte karya Firman Muntaco"]Gambang Jakarte karya Firman Muntaco[/caption]

Kalaupun ada cerpennya yang mengandung ”cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955), dikutip JJ Rizal (2007), mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.



Betawi masa kini

Apabila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt Majoindo (1896-1969), M Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM Ardan menimbulkan kesan: ”Ternyata orang Betawi seperti itu ya”, prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: ”Ternyata orang Betawi udah nggak kayak gitu ya...”.

28 Juni 2009

in memoriam: MICHAEL JOSEPH JACKSON (1958-2009)

michaeljackson



Goodbye, Moonwalker...
I'll see you in the moon.
You will always be in my heart.
Forever.
(to MJ, 08/29/1958-06/25/2009)

17 Juni 2009

Betawi versus Modernisasi

kronik-betawi



Oleh Muhammad Amin



Sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi


Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.

Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.