17 Maret 2010

Selamat merokok, sodara-sodara!

Saya tidak terlalu suka dengan urusan politik. Saya juga merasa terganggu membaca koran yang isinya cuma korupsi, kolusi, nepotisme, gontok-gontokan di DPR, dll. Sebab itu, saya berusaha untuk tidak peduli. Tapi ketika mendengar berita bahwa Bloomberg membayar Rp. 3,4 milyar kepada Muhammadiyah agar mengharamkan rokok, saya merasa marah.

Bukan karena saya merokok, tidak. Saya tidak bisa merokok. Pernah mencobanya beberapa tahun lalu, dan saya norak sekali soal hal ini: saya tidak bisa merokok. Saya juga benci dengan asap rokok, apalagi yang tercampur dengan AC di ruangan tertutup. Saya sangat setuju dengan imbauan bahwa merokok membahayakan kesehatan, amat sangat setuju. Tapi ketika rokok akan diharamkan, saya amat sangat tidak setuju.

Kenapa saya marah soal pengharaman rokok ini? Pertama, semurah itukah Muhammadiyah mau dibayar...cuma 3,4 M, gitu loh! Dan mau saja disuruh "merusak" salah satu tulang punggung perekonomian negara kita. Ya! Ini adalah poin kedua, rokok itu -setidaksuka apapun saya- adalah tulang punggung perekonomian bertahun-tahun lamanya.  Rokok yang membuat jutaan orang Indonesia punya pekerjaan, menghidupi mereka, menghidupi keluarga mereka. Belum lagi para petani tembakau dan cengkeh. Dan ketiga, nama negara kita bisa besar dan harum juga dari rokok.

Semua orang di dunia tahu kalau Indonesia salah satu penghasil rokok terbaik, produk kita dijual di luar dengan harga tinggi. Bahkan, beberapa teman pernah cerita, mereka sengaja membawa dua box rokok kretek untuk dijual di luar negeri sebagai biaya hidup jika kehabisan uang saku. Lebih dari itu, yang keempat, perusahaan-perusahaan rokok yang besar itu give back penghasilan mereka dengan menjadi sponsor kesenian. Sejak jaman tahu 1920-an, rokok Bal Tiga sudah mensponsori teater, tahun 1990 Sampoerna mengirimkan marching band ke California untuk pawai bunga di sana mewakili Indonesia (yang padahal konon total dibiayai Sampoerna), dan kini kita sering melihat Djarum mensponsori acara-acara kesenian. Yak, kesenian yang jarang sekali dilirik (apalagi dicolek) Pemerintah. Kelima, setahu saya di Al-Quran itu rokok hukumnya bukan haram, tapi makruh. Jadi ya...biarin aja orang yang mau ngerokok ya ngerokok saja, tak perlu repot menentukan terganjar dosa khusus orang yang merokok. Kalau mereka sudah sakit-sakitan, bengek, kan juga lama-lama kapok sendiri.

Oya, satu lagi...ini pesan sponsor dari teman-teman saya yang perokok. Mengingat para perokok itu sudah mendukung perekonomian negara, dan jumlahnya tidak sedikit, mbok tolong fasilitas untuk perokok di tempat-tempat umum itu diperbaiki. Tidak heran orang-orang tetap saja merokok sembarangan, orang tempat merokok yang nyaman pun tak disediakan. Menyuruh para perokok merokok di luar, berdiri di tempat parkir, dekat pembuangan AC dan genset itu termasuk tak manusiawi. Setidaknya sediakan ruangan yang nyaman dengan tempat duduk dan hexos, kan mereka sudah membantu memajukan perekonomian negara.

Gitu saja deh, sudah puas beruneg-uneg! Selamat merokok, sodara-sodara!

8 komentar:

dhani wisnu mengatakan...

saya tidak suka merokok....karena itu adalah hal yang sia-sia

Lalang Senja mengatakan...

Saya sependapat dgn mba, ayah saya juga perokok berat, saya jg suka marah kalau kena asap rokok, tapi kalau dilihat dari sudut yg lain, rokok jg bisa jadi tulang punggung keluarga

salam kenal :)

rusli mengatakan...

sejelek-jelek ORANG merokok tidak akan mengejek ORang yang Gak merokok... Mbak ratih udah memiliki Konsep yang Baik dalam Tulisan,, semoga Bisa jadi seperti mamanya....

kunto mengatakan...

wah, britanya dapet dari mana mba?? kl brita gtu smpe k publik bakal jadi kontroversi besar tu.
salam kenal..
oia, sy prokok. dan fatwa2 bwt saya adalah pilihan. terserah mau terima ato tidak. :)

anto mengatakan...

kalau dipikir2, kurang logis apa lg fatwa haram merokok...?
bukan umur panjang yg kita mau, tapi hidup sehat selama umur kita itu..
jadi, selamat -tidak- merokok sodara-sodara...

boy mengatakan...

"Kelima, setahu saya di Al-Quran itu rokok hukumnya bukan haram, tapi makruh."

eh, mnurut saya Al-Quran ngga pernah bicara masalah rokok deh... apakah artinya gak ada hukum yang jelas untuk rokok? terserah, gw ga peduli!

tapi, mnurut gw emang rokok harus dicegah sebisa mungkin supaya tidak semakin banyak lagi yang kecanduan rokok. tapi emang masalahnya adalah mencari solusi yang paling tepat yang bisa menguntungkan semuanya.

gw mencoba mengajak sob buat berfikir lebih luas:

1. HAM dan rokok
para perokok banyak menuding yang buat peraturan tentang dimana saja boleh merokok itu telah menginjak haknya sebagai manusia, di saat yang bersamaan banyak yang rela makan asap sepanjang perjalanan di bus kota daripada harus cekcok dengan perokok yang merasa KEMANUSIAANNYA terusik. bisa saja kita bilang yang rela makan asap itu bodoh, tapi bagaimana mungkin dia berani bicara kalau dia sudah merasa si perokok akan segera menantangnya buat menyediakan tempat layak buat merokok baginya. 'gak ada tempat khusus merokok yang layak, jadi terserah gw dong, derita lo ga' usah diaduin k gw, lapor sana sama si Foke!!!!!

2. Uang dan rokok
perusahaan rokok emang baik. banyak beasiswa, banyak kegiatan anak muda, banyak agenda amal disponsorinya. terlepas dari strategi pasar/bisnis yang emang gw juga ga' berani bicara banyak, disaat bersamaan, apakah perusahaan rokok itu juga pernah mencoba untuk tahu bahwa tak sedikit orang yang menyandang status 'tidak mampu' lebih merasa mampu mengeluarkan MINIMAL 10 ribu rupiah perhari untuk rokok daripada melunasi uang sekolah anaknya yang menunggak sekian bulan?
gw tidak sedang membicarakan masalah bencana kesehatan akibat rokok lo?

3. silahkan pikir sendiri. hehe.....

budi mengatakan...

wah kelihatannya saya harus banyak baca dan belajar berbagai hal , baru bisa komentar disini, salam kenal...

Miranda mengatakan...

Pemaparan dari sudut pandang yang cukup menarik.

Semua juga tau rokok merusak kesehatan. Saya perokok tapi saya menghormati orang-orang yang tidak merokok dengan tahu tempat untuk merokok.

Benar banget fasilitas untuk orang merokok sebaiknya diberi kenyamanan, agar tidak merokok sembarang, dan itu mengurangi perokok pasif.

salam kenal